Pelaku ekraf dapat bekerjasama langsung dengan petani dalam memperoleh bahan-bahan baku untuk produksi.
"Misalnya harga cabai naik, bisa bekerjasama dengan petani cabai yang ada di Jawa atau yang ada di Sulawesi Selatan. Bekerjasama dengan para petani akhirnya memotong rantai pasok dan harganya itu lebih terjangkau dan ini juga meningkatkan suplai," paparnya.
Saat ini banyak negara-negara di dunia sudah mulai masuk dalam ancaman resesi. Sebanyak 82 persen bank di luar negeri sudah memprediksi resesi pasti akan terjadi.
Indonesia meski belum masuk ke dalam zona yang membahayakan, namun harus tetap waspada. Ekonomi rakyat yang salah satunya ditopang oleh UMKM harus terus diperkuat dengan strategi promosi atau penjualan yang baik.
"Resesi bisa dihindari kalau revenue (untung bersih) naik. Bagaimana revenue naik? memperkuat strategi marketing atau promosi," sebut Sandiaga lagi.
Sedikitnya ada empat faktor yang harus dipahami oleh pelaku ekonomi kreatif sebelum menetapkan strategi promosi yang tepat. Pertama, produk yang dihadirkan haruslah produk yang berkualitas.
Selanjutnya adalah harga (price). Harga disini bukan berarti harga terendah adalah yang pasti akan sukses namun harga yang diselaraskan dengan segmentasi pasar.
"Sesuaikan dengan permintaan pasar. Kalau pasarnya harganya 100, disesuaikan harganya 100. Jangan dinaikkan karena nanti kalau dinaikkan pembeli merasa terbebani. Tapi kalau mengambil segmentasi pasar menengah ke atas, mungkin tidak terlalu berpengaruh,” papar Sandiaga.
Selanjutnya adalah tempat (place) atau dengan kata lain bisa dalam bentuk jalur distribusi yang tepat. Jalur distribusi yang sederhana, terbuka, dan berkeadilan.
"Terakhir baru bisa ditentukan strategi promosi dengan memaksimalkan digitalisasi. Sekarang banyak cara seperti gimmick, promo buy one get one," kata Sandiaga.
Ekonomi kreatif Indonesia memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan. Saat ini ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dengan nilai kontribusi sebesar 7,8 persen.
Jumlah tersebut ditopang dengan tiga subsektor utama yakni kuliner, fesyen, dan kriya. Jumlah tersebut juga menempatkan Indonesia di peringkat tiga besar dunia dalam kontribusi terhadap PDB nasional di bawah Amerika Serikat dengan Hollywood dan Korea Selatan dengan K-Pop.
Saat ini, kata Sandiaga, sebanyak 88,8 persen konsumen Indonesia menyatakan lebih dominan menggunakan dan mengonsumsi produk dengan brand atau jenama dalam negeri.
Adapun nilai ekspor ekonomi kreatif Indonesia pada tahun 2021 telah mencapai 23,9 miliar dolar AS. Sebelumnya pada 2020, ekonomi kreatif Indonesia baru berada pada angka 18,8 miliar dolar AS. Pemerintah menargetkan nilai ekspor ekonomi kreatif Indonesia pada tahun 2022 dapat mencapai angka 25,14 miliar dolar AS.
"Strateginya adalah bagaimana kita mempercepat digitalisasi, kita bantu dengan pelatihan dan pendampingan, upskilling dan reskilling juga newskilling. Misalnya edukasi tentang mengambil foto produk, packaging yang bagus, serta strategi pemasaran,” kata Sandiaga.
Editor: Aspian Nur