"Memang masih ada penyelewengan, karena hari ini isi (Solar) 120 liter, nggak kemana-mana, besoknya isi lagi," kata Satria, Senin (12/9/2022).
"Kira-kira masuk akal atau tidak, dalam 12 jam habisin solar 120 liter. Jalannya kemana aja itu kan? Nah, besoknya sudah ada lagi di SPBU," ujar Satria.
Dari sisi aturan sudah klir atau sesuai diperbolehkan antre Solar setiap hari. Sedangkan Solar yang telah diisi ke dalam tangki kendaraan, kembali kepada ranah pribadi atau sopir, apakah digunakan untuk operasional atau justru ditap lalu ditimbun untuk dijual kembali.
"Kalau misalnya (praktik) itu masuk tindak pidana, berarti itu tanggung jawab atas perilaku dia sendiri," sebutnya.
Sehingga sangat diperlukan adanya kesadaran melalui edukasi secara terus menerus bahwa peruntukkan Solar subsidi sudah dikhususkan dengan kendaraan berkriteria tertentu.
Misalnya untuk distribusi bahan pokok bagi masyarakat.
"Sekarang coba lihat di SPBU Km 13, yang banyak antre (kendaraan) yang mana? Belakangnya apa kira-kira yang diangkut? Syukur kalau angkut sembako. Tapi kalau mengangkut alat berat, cocok atau tidak? Makanya dibuat fuel card itu supaya Solar subsidi bisa tepat sasaran," tuturnya.
Salah satu faktor adanya praktik penimbunan karena disparitas harga yang masih cukup jauh antara Solar bersubsdi dengan Dexlite yang non subsidi. Di mana harga Solar bersubsidi terkini adalah Rp6.800 dan Dexlite Rp17.450 per liter.
"Memang masih ada selisih. Orang yang tadinya berpikir tidak mau menimbun, jadi melakukan itu karena disparitas harga. Saya melihatnya, kalau marginnya ditipisin, cuan (uang) bedanya Rp2 ribu aja, kira-kira mau nggak? Malas kan antre untuk mengetap," papar Satria lagi.
Kendati begitu, Pertamina Patra Niaga hanya sebagai operator dalam penyaluran BBM bersubsidi maupun non subsidi. Sedangkan anggaran subsidi yang digelontorkan pemerintah untuk masyarakat sudah cukup besar.
"Pemerintah juga menghitung daya beli masyarakat, tekanan inflasi, dan lain-lain. Saya pikir cukup pemerintah perhatian. Besar banget subsidi dari pemerintah," pungkasnya.
Penulis: Hendra
Editor: Aspian Nur