China Bersiap Pangkas Harga Impor Batu Bara
3 menit baca603 kali dibaca

KORANKALTIM.COM – China sebagai negara importir batu bara terbesar dunia bisa memangkas impor hingga 30 persen tahun ini.
Hal itu dikarenakan produksi domestik bertahan pada tingkat rekor dan permintaan yang kuat untuk pasokan non-Rusia, hal mana yang membuat harga impor diatas harga pasar lokal.
Penurunan impor batu bara China dapat membantu membatasi harga global yang diperkirakan akan melonjak karena pembeli di Eropa dan Asia Utara mencoba menggantikan pengiriman emas hitam asal Rusia yang hilang.
Uni Eropa diperkirakan akan memberlakukan larangan impor batu bara dari Rusia yang akan berlaku penuh mulai pertengahan Agustus 2022 mendatang atas invasi ke Ukraina yang disebut Moskow sebagai operasi militer khusus.
Konsultan energi memperkirakan impor batu bara termal China bisa turun antara 11 persen dan 30 persen tahun ini karena harga impor yang kuat menurunkan permintaan.
"Pasar sangat sepi. Pembeli enggan melakukan transaksi karena harga di lintas laut masih lebih tinggi dari harga domestik," kata seorang pedagang batu bara yang berbasis di Beijing, dilansir dari Reuters Sabtu (9/4/2022) hari ini.
Batu bara termal Australia berjangka terkait dengan patokan harga Newcastle mencapai $281,65 per ton pada hari Jumat kemarin, sementara batu bara berjangka Zhengzhou China kurang dari setengahnya, senilai 802,4 yuan ($126.15) per ton.
Beijing membatasi harga domestik China tahun lalu untuk mencegah kekurangan pasokan listrik.
Data bea cukai China menunjukkan. impor batu bara China dari Indonesia turun 34 persen dari tahun lalu dalam dua bulan pertama tahun 2022 ini setelah Jakarta membatasi ekspor.
Sanksi Barat terhadap Rusia kemudian menyebabkan impor turun 26 persen pada bulan Maret.
“Consultancy CRU merevisi perkiraan turunnya harga di tahun 2022 untuk impor batu bara termal seaborne atau lintas laut China menjadi 180 juta ton, 30 persen lebih rendah dari tahun lalu, karena harga seaborne yang tinggi dan produksi domestik yang kuat,” kata analis batu bara senior Dmitry Popov.
S&P Global Commodity Insights memperkirakan impor gabungan batubara termal dan lignit turun menjadi 235 juta ton, turun 13 persen dari tahun 2021.
Sementara Analis Wood Mackenzie Zhai Yu mengatakan impor batubara termal bisa turun 11 persen menjadi 220 juta ton tahun ini. Perkiraan bervariasi tergantung pada kadar batubara termal yang digunakan konsultan dalam perhitungan mereka.
Perencana negara China telah menetapkan target untuk produksi batu bara harian sebesar 12,6 juta ton untuk tahun 2022, lebih tinggi dari puncak sebelumnya 12,4 juta per hari yang ditetapkan Desember 2021 lalu.
China Energy Group, penambang batu bara terbesar di negara itu, Kamis tengah pekan tadi mengatakan, produksi batu bara mereka tumbuh 6,7 persen pada kuartal pertama dari tahun lalu menjadi 152 juta ton.
China yang menolak mengutuk invasi Ukraina, sejauh ini tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan impor batu bara dari Rusia. Tahun lalu mereka membeli sekitar 56 juta ton batu bara Rusia, sekitar 17 persen dari total impornya.
"Pembangunan stok untuk musim panas belum dimulai. Untuk saat ini kami hanya membeli jika harga bagus," kata seorang manajer.
"Mengenai batu bara Rusia, orang-orang berhati-hati dan tidak banyak perusahaan pelayaran yang berani menelepon di pelabuhan Rusia," imbuhnya.
Namun jika harga batu bara Rusia turun karena lebih banyak pembeli menghindari bahan bakar, China dapat meningkatkan impor mungkin sebesar 20 juta ton lebih banyak dari tahun lalu, kata Zhai dari Woodmac.
Editor: Aspian Nur










