“Seharusnya iya (menjadi sumber PAD). Tapi sejauh ini wisatawan yang kesana hanya sekadar perjalanan biasa saja,” terang Ardiansyah.
Ia mengakui bahwa kendala infrastruktur masih menjadi alasan utama mengapa Karst Sangkulirang-Mangkalihat belum bisa menjadi sumber PAD bagi Kutim. Pelaku wisata di kawasan tersebut pun sejauh ini tidak dikenakan retribusi dan sebagainya.
“Kami masih memikirkan infrastrukturnya dulu dibenahi,” tegasnya.
Keinginan untuk menjadikan Karst Sangkulirng-Mangkalihat sebagai wilayah Geopark juga menjadi salah satu keinginan Pemkab Kutim. Dimaksudkan dengan status tersebut, pengelolaan Karst Sangkulirang-Mangkalihat bisa dioptimalkan dengan cara yang lebih komprehensif. Namun juga dengan tidak melakukan eksploitasi di kawasan yang disebut-sebut bekas peninggalan zaman purba tersebut.
“Saya yakin, kalau pengelolaannya dilakukan bersama-sama. Ada APBN, APBD Provinsi dan daerah masuk pasti bisa lebih maksimal pengembangannya,” imbuhnya.
Infrastruktur jalan adalah satu hal yang menurut Ardiansyah mendesak untuk lekas direhabilitasi. Ia mengakui menunggu angin segar rencana APBN untuk turut serta membantu perbaikan jalan-jalan di wilayah Kutim.
“Semoga termasuk akses ke Karst Sangkulirang Mangkalihat ya,” pungkasnya.
Penulis: */Permata S. Rahayu
Editor: Supiansyah