Manager Store Iwan Swalayan Tenggarong, Haidir mengungkapkan, tokonya itu mulai menjual beberapa merk minyak goreng murah itu mulai Jumat (21/1/2022). Terlambat satu hari lantaran harus menghitung stok untuk dilaporkan ke agen agar stok lama ini dapat dijual dengan harga Rp14 ribu per liter. Mulai dari merk Wings, Wilmar, dan beberapa jenis lain kecuali merk Sunco yang belum diapproval atau disetujui.
"Kalau nggak salah hari Kamis mulai jalan (berlaku) retail/market nasional, kami belum. Besoknya baru kami dihubungi hitung stok dulu, makanya itu (jual) gak berjalan pagi, jam 4 mau jam 5 baru kami approve karena harus hitung semua stok dulu. Sore itu kan kita post di media sosial kita," ujarnya.
Artinya, Iwan Swalayan tidak serta-merta menjual minyak goreng ini dengan harga murah melainkan mengkonfirmasi terlebih dulu ke distributornya. Kebijakan di ritel ini, satu orang pembeli hanya boleh membeli satu bungkus isi dua liter atau dua bungkus isi satu liter. Jika mengambil lebih dari itu, maka hasil pindai di kasir akan menghitung dengan harga normal.
"Per hari ini kita habis kurang lebih 700 dus sejak Jumat, dalam tiga hari semua yang kita promokan. Yang dua liter aja ya, kalau yang satu liter sekitar puluhan, karena kita stok nggak banyak," bebernya.
Diketahui kebijakan ini akan berlaku hingga enam bulan mendatang untuk menanggulangi meroketnya harga minyak goreng. Sebanyak 1,2 miliar liter minyak goreng disediakan oleh pemerintah dan Rp3,6 miliar untuk menutup selisih harga termasuk PPN.
Haidir melanjutkan, Iwan Swalayan akan terus menjual minyak goreng jenis ini selama stoknya masih ada. Diungkapkannya, stok minyak goreng merk Fortune, Kunci Mas sudah habis. Kemudian stok untuk merk Filma juga sudah menipis.
Secara tidak langsung ini menyebabkan kompetisi antar ritel, bagi yang menjual dengan harga normal tentunya bakal ditinggalkan oleh pelanggan. Sehingga tidak ada alasan untuk tetap menjual minyak goreng dengan harga normal di kisaran Rp19 ribu.
Ditanya soal apakah kebijakan ini akan berujung kerugian tau tidak, Hadir mengaku tidak paham benar soal itu. Pihaknya sebagai ritel tidak langsung terhubung dengan pemerintah terkait klaim dari selisih harga ini, melainkan distributornya.
"Di program kami pun sebenarnya terjual minus margin, rugilah gitukan. Contohnya seperti merk Sabrina itu modalnya 37 ribu per bungkus dua liter, kita jual 28 ribu jadi minus 9 ribu kan ya. Itung-itung ya rugi 9.000 per bungkus kali berapa ribu bungkus (yang sudah terjual)," demikian Haidir.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : Bambang Irawan