"Baru kita lihat peningkatan produksi menjelang 2030," kata Roy dihadapan awak media saat jumpa pers akhir tahun, Kamis sore (24/12/2021).
Bahkan proyek eksplorasi yang dilaksanakan saat ini belum bisa memberi kontribusi secara langsung terhadap peningkatan produksi. "Baru akan kita rasakan mulai dari 2023," ucapnya.
Sehingga, tahun ini dapat dikatakan menjadi titik terendah dalam kurva industri hulu migas. Mulai lepas landas secara nasional pada 2023.
SKK Migas berharap volume kegiatan pengeboran, baik pengembangan maupun eksplorasi akan meningkat seiring dengan disetujuinya insentif migas Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dan Pertamina Hulu Sanga-Sanga (PHSS).
"Terus terang masih deg-degan terkait dengan insentif ini karena impact-nya sangat kritikal terhadap produksi," tandasnya.
Untuk diketahui, kontribusi lifting minyak Kaltim pada Januari hingga November 2021 sebesar 54.023 BOPD atau 76 persen dari Kalimantan Sulawesi (Kalsul) yang mencapai 71.414 BOPD.
Sedangkan kontribusi lifting gas bumi di Kaltim sebesar 1.153 MMSCFD atau 69 persen dari lifting gas bumi Kalsul 1.666 MMSCFD.
Kemudian lifting minyak plus kondensat dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Kaltim sampai 21 Desember 2021, terealisasi 54.023 BPOD atau 96 persen dari target APBN 56.527 BOPD.
Selanjutnya lifting atau salur gas KKKS di Kaltim sampai 30 November 2021, telah terealisasi 1.153 MMSCFD atau 109 persen. Melebihi dari target APBN yakni 1.061 MMSCFD.
Penulis: Hendra
Editor : Bambang Irawan