Adalah sepasang suami istri asal Kampung Linggang Melapeh, FE Lebiq dan istrinya Sisillia Ramlan yang menjadi penggagas motif Kriookng di Kutai Barat.
Lebiq menceritakan awalnya ia menemukan motif tersebut dari rumah salah seorang warga Linggang Melapeh yang bernama Upang.
“Beliau wafat, dan tidak punya keturunan. Jadi saya dan istri putuskan untuk mengembangkan gambar-gambar yang sudah dibuat beliau,” terang Lebiq yang berusia 76 tahun ini.
Mulanya ia mendapati ada empat motif yang digambar Upang di kertas. Bersama sang istri ia pun mengembangkan gambar-gambar tersebut dengan mengacu pada kearifan lokal di kampung tempat mereka tinggal seperti motif Kriookng Kodook yang berarti kura-kura. Lebiq menjelaskan pembuatan motif Kodook berawal ketika ia menemukan kura-kura di pegunungan Eno.
“Kura-kura kan jalannya lamban. Tapi bisa sampai ke gunung, meskipun pelan dan tertatih ya. Jadi semoga warga sini juga begitu. Tetap berusaha mencari penghidupan walau kondisi sulit,” imbuhnya.
Hingga kini sudah ada tujuh motif yang berhasil dikembangkan. Ketujuh motif tersebutlah yang kemudian dipatenkan di pemerintah pusat.
Selain Kriookng Kodook atau kura-kura, enam motif lain yang sudah mendapatkan hak paten adalah Kriookng Belanai (guci), Kriookng Kelebet (perisai), Kriookng Cihiiq (tiang), Kriookng Ketau (rok), Kriookng Alaau (pagar), dan Kriookng Naga.
Untuk memudahkan pihak yang hendak menggunakan motif-motif tersebut, Lebiq dan istrinya sudah mencetak ukiran-ukiran motif tersebut dalam bentuk kain siap pakai.
“Tinggal ditempel di pakaian yang hendak dipakai. Ada juga pakaian jadi, atau berupa tapih,” tutupnya.
Penulis: */Permata S Rahayu
Editor: Aspian Nur