Camat Tenggarong, Arfan Boma mengatakan UMKM di Tenggarong sudah mulai gencar dilakukan pada 2019. Sekarang bisa terlihat sendiri banyaknya pelaku ekonomi kreatif dan menjamurnya UMKM. Salah satu upaya yang dilakukan Kecamatan Tenggarong ialah dengan berkolaborasi bersama OPD teknis memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM agar mampu memiliki standarisasi dan sertifikasi yang teruji mumpuni sehingga mampu menghasilkan produk lokal yang bisa bersaing dengan produk regional, nasional bahkan mampu diekspor ke negara tetangga.
“Kami melakukan inventarisir, dan didapatkan data kita memiliki 6.000 pelaku UMKM, namun setelah kita validasi data ulang yang aktif ada sebanyak 4.000 UMKM. Ini potensi untuk kemandirian ekonomi, namun tentunya harus kita bekali dengan peningkatan SDM yang mumpuni, makanya kita beberapa kali bersama TP PKK menggelar pelatihan-pelatihan,” kata Boma yang diamini Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Tenggarong, Atih Hayati.
Adapun beberapa pelatihan UMKM yang telah sukses dilakukan sejak 2019 ialah pelatihan membuat sulam tumpar, manik sarang semut dan kalung manik untuk industri kerajinan tangan. Pelatihan pembuatan abon cabe empat macam varian rasa, pelatihan membuat perasa, saos dan olahan daun kelor dalam pengembangan teknologi tepat guna (TTG).
Kemudian pelatihan penjamah makan dan keamanan pangan. Selain itu pula Kecamatan Tenggarong bersama TP PKK juga aktif membimbing pelaku UMKM untuk mendapatkan sertifikasi dan perizinan serta kelayakan edar produk lokal yang dipasarkan agar tidak kalah bersaing dengan produk luar daerah.
“Alhamdulillah olahan UMKM kita sudah ada yang tembus pasar luar daerah seperti olahan sambal yang sudah dijual di IPDN Jatinangor, kemudian produk kerajinan tangan manik dan sulam tumpar juga di ekspor ke Malaysia dan olahan keripik ataupun kerupuk yang bervarian rasa serta bahan bakunya juga untuk rasa bisa diadu dengan produk yang lebih dulu terkenal serta justru harganya jauh lebih murah,” sebutnya.
Kecamatan Tenggarong sendiri memiliki 12 kelurahan dan dua desa. Di setiap wilayah memiliki potensi masing-masing sehingga infrastruktur jalan untuk mempermudah akses masyarakat pelaku UMKM juga menjadi perhatian serius Kecamatan Tenggarong.
“Kalau perkotaan sudah interkoneksi, daerah pinggiran ini yang perlu pembangunan infrastruktur, namun kami harus selektif apakah nanti pembangunan itu mengena dan tepat sasaran khususnya bagi masyarakat kita pelaku UMKM. Sehingga selaras dengan program kerja kita yakni Tenggarong Kecamatan UMKM,” terangnya.
Akses infrastruktur jalan untuk menunjang UMKM ini sudah sangat dirasakan saat ini, seperti di Kelurahan Bukit Biru. Di sana ada produk pisang ketika dulu akses jalan untuk mengangkut hasil kebunnya cukup sulit sehingga langsung dijual berupa bahan baku ke pengepul, kini pelaku UMKM bisa mengolah terlebih dahulu sehingga olahan pisang tersebut bisa menambah nilai ekonomi yang cukup tinggi.
“Sejak 2018-sekarang jalanannya sudah bisa dilalui tidak kenal musim, mau panas mau hujan. Dan komoditi pisang ini kan jangka pendek panennya jadi perputarannya cepat, industri kecil pun hidup dengan mudahnya akses jalan di masing-masing kelurahan dan desa,” pungkas Boma. (Hei)
Editor : Bambang Irawan
Berita/artikel ini sudah terbit di Koran Kaltim edisi cetak Kamis tanggal 26 Agustus 2021