Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Balikpapan, Mubar Yahya membenarkan kondisi tersebut karena layanan transportasi semakin mudah didapatkan hanya dengan aplikasi dari melalui telepon seluler.
“Ada yang pindah ke online (Daring), ada yang berhenti dan cari pekerjaan lain,” kata Mubar Yahya, Kamis (24/6).
Hanya saja, ia belum mengetahui jumlah sopir angkot yang beralih profesi ke taksi daring atau pun berhenti menjadi supir. Pasalnya Organda tidak melakukan survei. “Tapi yang jelas ada,” ucapnya.
Organda, kata dia, akan terus berupaya mengambil langkah agar angkot tetap menjadi alternatif masyarakat meski dikepung taksi daring.
Sopir pun diingatkan agar tertib dan mengutamakan keselamatan sebagai bentuk pelayanan terhadap penumpang. Termasuk kebersihan armada dan kerapian sopir. “Banyak masyarakat mempertimbangkan itu,” ucapnya.
Itu dilakukan agar angkot tetap eksis, terlebih Balikpapan yang bakal menjadi penyangga Ibu Kota Negara (IKN). Dirinya tidak ingin angkot punah seperti di Bali.
“Sebab semakin maju tingkat pemikiran masyarakat, akan semakin berkurang jumlah angkot,” sebutnya.
Berdasarkan data Dinas Perhubungan, angkot aktif saat ini tersisa 665 unit. Turun cukup signifikan bila dibandingkan 2019 lalu yang sebanyak 980 unit.
penulis : */Hendra
Editor : Bambang Irawan