“Kami lakukan pemeriksaan fisik buah dulu, sebelum diekspor. Jadi buah yang dikirim dalam kondisi baik, tidak busuk dan bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) dan OPT,” kata Kepala Balai Karantina Pertanian (BKP) Tarakan, Ahmad Alfaraby.
Alfaraby mengungkapkan, meski sempat mengalami penurunan ekspor, pihaknya tetap memberikan dukungan dan membimbing pelaku usaha untuk meningkatkan ekspor.
“Kami selalu berupaya memfasilitasi dan memberikan prioritas, pendampingan serta kemudahan layanan ekspor,” imbuhnya.
Selain buah, ada juga ekspor lada hingga 1 ton, namun frekuensinya hanya sekali. Sementara ini memang pengiriman untuk lada masih terbatas. Namun, untuk pengiriman buah naga ini juga masih baru dan mulai meningkat.
“Buah-buahan ini dikumpulkan dari wilayah di Kaltara, kemudian dijual ke Malaysia. Ada pengumpulnya. Buah dikumpulkan di Nunukan dan dikirim ke Malaysia. Bisa juga dari provinsi lain seperti Sulawesi dan masuk ke Kaltara, ditambah produk yang ada di Kaltara baru diekspor keluar,” paparnya.
Diakuinya, tujuan ekspor dari Kaltara memang hanya ke Malaysia. Saat ini pun meski permintaan banyak, kekurangan stok untuk ekspor dan akhirnya hanya mampu ke wilayah tujuan Malaysia dulu. Ia pastikan, jika ada pesawat langsung keluar negeri, sebenarnya Kaltara juga memiliki potensi ekspor.
“Tapi memang volumenya tidak banyak, harus ada pengumpul lagi. Harus memenuhi kuota. Kan ekspor itu tidak hanya sekali, tetapi harus memenuhi per minggu sekian ton dan kontinyu. Kalau tidak bisa memenuhi, ya diputus kontraknya dan dicari daerah lain yang ada bahannya,” tegasnya.
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di korankaltara.com hari Selasa 9 Februari 2021 dengan judul Kaltara Ekspor Buah 98 Ton di Awal Tahun