Untuk itu, Kaltim kini tengah mencoba mekanisme baru yang disebut phytomining untuk mengeksploitasi potensi nikel di Kaltim.
Kepala DESDM Kaltim, Christianus Benny menjabarkan, bahwa konsep phytomining bisa dikembangkan untuk memperoleh nikel di Kaltim. Hanya saja saat ini, jenis-jenis tumbuhan yang bisa mendukung phytomining belum diketahui.
“Sampai saat ini ada satu sumber nikel kita, di Paser. Cuma sudah berhenti beroperasi pertambangannya.Sekarang kami coba kembangkan phytomining,” jelas Benny.
Phytomining merupakan teknik ekstrasi tumbuhan untuk mengambil senyawa logam berat yang terkandung dalam tanaman yang memiliki hasil tambang. Benny menyebut saat ini Malaysia sudah berhasil menginventarisir 24 tanaman yang bisa digunakan untuk phytomining. Tanaman-tanaman tersebut jika diekstrasi dengan baik, akan menghasilkan senyawa nikel yang kemudian bisa diolah untuk pembuatan baterai lithium.
“Kita ini kan dekat dengan Malaysia. Semestinya jenis-jenis tumbuhan yang di sana, bisa dikembangkan di sini. Jadi menambang itu tak melulu tentang penggalian,” sambungnya.
Dari informasi yang diterimanya, 1 gram daun kering yang dipanen untuk phytomining dapat menghasilkan 2 sampai 3 ribu mikogram senyawa nikel. Belum lagi rata-rata tanaman yang mengandung unsur logam berat tesebut memiliki keindahan yang sangat baik.
“Tanamannya itu bagus-bagus, jadi bisa ditanam di depan rumah. Nanti coba kita kembangkan,” lanjut Benny.
Diketahui bahwa nikel merupakan salah satu jenis sumber energi baru terbarukan yang paling diminati masyarakat Eropa. Eropa sendiri merupakan salah satu wilayah tujuan ekspor utama batu bara Kaltim. Namun belakangan Eropa berencana untuk menghentikan penggunaan energi fosil mereka dalam kurun wakyu lima tahun ke depan.
“Jadi penting untuk kita menemukan energi baru terbarukan, untuk menyesuaikan permintaan pasar,” tandasnya.[]
Penulis : */Permata S Rahayu
Editor : Rusdi