PT Aneka Tambang (Antam) Tbk, yang membuka gerainya di Balikpapan pun menjelaskan kondisi turunnya harga emas ini dipengaruhi oleh isu-isu global yang sedang berkembang.
“Mulai dari isu-isu ditemukannya vaksin untuk Covid-19, sampai pemilihan umum di Amerika Serikat. Itu jelas jadi pengaruh,” beber Kepala Butik Antam Balikpapan, Sujadi.
Harga emas di Indonesia bisa fluktuatif karena mengikuti harga pasaran dollar Amerika. Sehingga naik turunnya nilai tuka rupiah ke dollar, berbanding lurus dengan naik turunnya harga emas di Indonesia.
Selama 3 bulan terakhir, harga emas tertinggi memang terjadi pada bulan Oktober, karena pernah hampir menyentuh Rp1,1 juta. Menurutnya kenaikan harga emas beberapa waktu lalu dipengaruhi oleh isu ketegangan antara hubungan dua negara besar, Amerika Serikat dan Cina. Sedangkan Sujadi menerangkan turunnya harga emas belakangan, tak semata-mata langsung membuat pembeli sibuk membeli emas.
“Artinya belum ada peningkatan pembelian yang signifikan ya. Mungkin perkembangan ekonomi paska Covid-19 yang baru menggeliat ini yang jadi pertimbangannya,” sambung Sujadi.
Diprediksinya, harga emas masih akan mengalami penurunan hingga akhir tahun ini. Namun ia meyakini, titik rendah dari harga emas disekitar angka Rp850 ribu. Pasalnya isu seputar penemuan vaksin diyakininya akan reda.
“Karena ini ramai baru ditemukan vaksinnya. Tapi kan proses distribusi vaksin juga perlu waktu. Nah jadi lambat laun bisa naik juga harga emas,” pungkasnya. (*)
Penulis: */Permata S Rahayu
Editor: Aspian Nur