“Saat ini permintaan marketing luar biasa terkait kebutuhan internet semua. Kalau persentase kenaikan kami bisa sampai 130 persen. Bulan pertama di awal-awal 3 bulan itu sekitar 120 persen. Kita sebagai provider memang perannya adalah percepatan, supaya masyarakat bisa menikmati layanan yang melakukan interaksi kerjaannya lewat online. Dan sampai sekarang banyak yang menunggu untuk dipasang dan itu pun titik pemasangan tidak sedikit,” kata Adil.
Dengan permintaan yang banyak, tentu pihak Telkom menjadi kewalahan sehingga banyak pelanggan yang menunggu. Kendati demikian, dengan banyaknya daftar tunggun tidak bisa semerta-merta pihak Telkom menerjunkan personelnya ke lapangan. Tetapi harus melakukan segala persiapan mulai dari perizinan hingga perlengkapan serta strategi di lapangan.
“Kami tidak bisa langsung mengeluarkan pasukan untuk terjun ke lapangan karena kalau kita tidak mempunyai strategi itu bisa berefek juga ke layanan dan ke internal kita. Jadi kami jaga juga pasukan kami di lapangan supaya dalam berinteraksi itu mereka tidak menjadi korban dari penularan virus,” ucap Adil.
Satria Arif, selaku Officer Covid Ranger Telkom dan Staf Warroom juga menyebutkan bahwa pemakaian wifi meningkat karena penggunaannya lebih hemat daripada memakai kuota internet. Sehingga menimbulkan banyak permintaan pemasangan.
“Kalau pake paket kuota itu memang sedikit mahal, jadi banyak yang beralih ke wifi Indihome. Semakin banyak pelanggan kita juga harus menjaga kualitas layanan kita ditengah traffic layanan yang tinggi, ” sebut Arif.
Arif juga menuturkan jika personel yang diturunkan ke lapangan mendapat perhatian agar terhindar dari penularan virus.
“Seperi halnya pemasangan di area rumah sakit, personel kami siapkan APDnya saat bertugas. Dan juga semua personel kami berikan vitamin serta sering melakukan pengecekan suhu tubuh,” sebut Arif.
Penulis : */Rizky
Editor : Bambang Irawan
Berita/artikel ini sudah terbit di Koran Kaltim edisi cetak Sabtu tanggal 3 Oktober 2020