“Kami nelayan merasa memiliki kesempatan yang sama dengan pengusaha besar dan dapat diperhitungkan,” kata Rustam, Rabu (30/9/2020).
Kampung Nelayan Berdasi itu terletak di Kecamatan Balikpapan Barat. Tepatnya Kelurahan Kariangau. Warga di sana mayoritas berprofesi sebagai nelayan.
“Kami juga ingin mengubah nasib,” ujarnya. Dari situlah Rustam bersama nelayan yang lain mencoba mencari cara agar hasil tangkapan bisa memberi nilai lebih. Tak sekadar dijual ke pasaran.
“Apalagi jadi nelayan tak punya pendapatan pasti,” sebutnya. Kini budidaya kepiting bakau dan kepiting soka dari KUB Patra Bahari Mandiri telah memiliki langganan. Khususnya restoran dan kafe yang ada di Balikpapan. Tak sedikit juga yang datang ke Kampung Nelayan Berdasi untuk membeli kepiting.
“Tapi untuk kepiting soka terpaksa tidak kami budidaya dulu karena permintaan menurun sejak pandemi,” ungkapnya. Region Manager Comm, Rel & CSR Kalimantan Roberth MV Dumatubun menambahkan Pertamina telah menjajaki dan mengembangkan potensi di kawasan tersebut sejak 2018.
“Lokasinya cukup strategis untuk dikembangkan. Bukan hanya dari pembudidayaan tetapi sebagai lokasi wisata edukasi,” kata Roberth. Termasuk pendirian fasilitas budidaya kepiting soka dan penggemukan kepiting bakau. Khusus kepiting soka atau bercangkang lunak, nelayan telah memiliki lebih kurang 300 crab box. Nilai jual kedua jenis kepiting itu pun cukup tinggi.
“Nelayan semula menjual hasil tangkapannya kepada pengepul untuk dijual lagi di pasar dengan harga Rp25 ribu sampai Rp40 ribu per kilogram. Kini mereka dapat menjual dengan kisaran Rp75 ribu per kilogram,” ungkapnya.
Sedangkan, untuk kepiting soka dapat dihargai Rp100 ribu per satu kilogram karena telah dikemas rapih dan dengan kualitas yang bersaing di pasaran.
Tak cuma itu. Pertamina turut menggandeng Universitas Hasanuddin untuk inovasi penggunaan ekstrak bayam guna merangsang percepatan molting atau penggantian cangkang bagi kepiting soka. Kerja sama turut dijalin ke Institut Teknologi Kalimantan (ITK) dalam pemanfaatan limbah cangkang kepiting soka menjadi bubuk kaldu kepiting. Produm itu dinamakan braco yang dipasarkan secara daring atau online.
“Ampas pembuatan braco juga masih dimanfaatkan menjadi pelet atau makanan ikan pada tambak. Pertamina bantu bikin tambak seluas 2 hektare,” pungkasnya. Kini kawasan itu telah dinobatkan sebagai Kampung Tangguh Nasional karena mampu bertahan selama pandemi Covid-19.[]
Penulis : Hendra
Editor : Rusdi
*Berita ini, telah terbit pada Koran Kaltim versi cetak, edisi Kamis 1 Oktober 2020, dengan judul "Kampung Nelayan Berdasi,"