Realisasi ini, juga membuat ekonomi Indonesia dua kuartal berturut-turut terkontraksi, pada kuartal I-2020 secara kuartalan sebesar -2,41 persen.
Secara teknis, kontraksi berturut-turut dalam kuartalan (q to q) bisa dibilang sebagai resesi teknikal (technical recession).
Benarkah ekonomi Indonesia masuk resesi teknikal?
Dikutip dari Detik Finance, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, ekonomi Indonesia belum masuk resesi teknikal. Pasalnya, struktur perhitungan ekonomi nasional masih memasuki faktor musiman, seperti lebaran dan faktor pendorong lainnya di bulan-bulan tertentu.
Di Indonesia, kata Joshua untuk data PDB yang sudah dilakukan penyesuaian musiman, maka pada umumnya, resesi teknis didefinisikan sebagai pertumbuhan kuartalan mengalami pertumbuhan yang negatif dua kuartal berturut-turut.
"Namun mengingat data PDB Indonesia masih belum menghilangkan faktor musiman, maka teknikal resesi didefinisikan sebagai pertumbuhan tahunan yang mengalami pertumbuhan negatif pada dua kuartal berturut-turut. Jadi Indonesia belum teknikal resesi," jelas Joshua seperti dikutip korankaltim.com, dari detik.com, Kamis (6/8/2020).
Jika benar Indonesia masuk resesi teknikal, menurut dia seharusnya BPS sudah mengumumkannya sejak 2014 lalu. Bahkan, menurut dia beberapa kuartal pada tahun-tahun berikutnya juga sempat mengalami negatif secara berturut-turut.
Ia merinci, berdasarkan data BPS secara kuartalan, pada kuartal IV-2014, ekonomi Indonesia juga mengalami minus -2,07 persen dan pada kuartal I-2015 -0,16 persen.
Selanjutnya pada kuartal IV-2015 -1,73 persen dan pada kuartal I-2016 -0,36 persen, lalu ada juga pada kuartal IV-2016 -1,81 persen dan pada kuartal I-2017 -0,30 persen.
Bahkan, ekonomi Indonesia secara kuartal pernah tiga kali berturut negatif, yaitu pada kuartal IV-2019 yakni -1,74 persen, kuartal I-2020 yaitu minus -2,41 persen dan kuartal II-2020 yaitu -4,19 persen.
Oleh karena itu, Josua menilai masih adanya faktor musiman pada perekonomian Indonesia maka tidak bisa dibilang jika ekonomi nasional masuk dalam resesi teknikal.
"Jadi kalau data historikalnya ada bahwa kalau kita mengacu ke kuartal itu kita sudah negatif dua kali berturut-turut, kenapa nggak dibilang kapan tahun, kalau kita melihat q to q ya nggak bisa, karena perekonomian kita ada musimannya ini nah BPS ini tidak bisa menghilangkan itu," katanya.
"Jadi tidak fair kalau ngomongin q to q, misalnya Q2 ada Lebaran maka Q3 jadinya negatif pasti melambat," tambahnya.
Editor : Rusdianto
*Berita sudah tayang di detik.com dengan judul "Benarkah RI Masuki Resesi Teknikal ?", Rabu, 05 Agustus 2020.