"Kondisi itu dipengaruhi oleh periode low season.
Termasuk masih berlangsungnya pandemi Covid-19 sehingga mengurangi permintaan,” kata Bimo Selasa (03/08/2020) kemarin.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau kata Bimo juga memberi andil deflasi -0,10 persen, yang berasal dari koreksi harga beberapa komoditas bahan makanan seperti daging ayam ras, bawang merah, bawang putih dan cabai rawit.
“Karena masih lemahnya permintaan pada masa pandemi Covid-19 dan pada saat yang sama pasokan bahan makanan cenderung cukup terjaga,” terangnya.
Sumbangan deflasi juga diberikan kelompok pakaian dan alas kaki serta kelompok penyediaan mamin/restoran masing-masing sebesar -0,05 persen. Namun, laju deflasi sedikit tertahan oleh peningkatan harga dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,06 persen.
“Itu berasal dari peningkatan harga emas perhiasan sejalan dengan peningkatan harga emas dunia,” sebutnya.
Beberapa faktor diperkirakan masih akan memberikan tekanan inflasi ke depan. Diantaranya kondisi cuaca seperti angin selatan yang berpotensi menghambat pasokan bahan makanan.
“Termasuk berlanjutnya tren naiknya permintaan emas pada masa pandemi Covid-19 yang mendorong peningkatan harga emas secara global,” tutup Bimo.[*]
Penulis : Hendra
Editor : Rusdianto
*Berita/artikel ini, sudah terbit di Koran Kaltim edisi cetak tanggal 5 Agustus 2020.