Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Kaltim Gatot Teguh Januar menjelaskan, situasi ditengah pandemi ini memang membuat pertemuan terbatas, menurut pengamatannya dampak dari wabah sangat terasa meskipun ada saja konsumen yang masih membeli dan mengarahkan pembelian lebih ke bahan pokok demi memenuhi kebutuhan keseharian.
"Ritel seperti non bahan pokok (baju, mainan dll) mulai menurun, konsumen lebih mengarah kepada kebutuhan pokok sehari-hari. Lebih safety (hati-hati) dalam pengeluaran, cenderung berbelanja ke bahan pokok," sebutnya Senin (20/4/2020) tadi
Ritel-ritel yang tetap buka, disebut Teguh, masih tetap buka dengan protap (prosedur tetap) pada karyawan sesuai anjuran pemerintah, seperti menggunakan masker, pengecekan suhu, menyediakan tempat cuci tangan dengan perlengkapan sabun cuci dan air mengalir.
Semua gerai retail modern juga melakukan sanitasi rutin di semua peralatan kerja dan semua properti karyawan, seperti laci, loker, musola, kamar mandi dan lainnya.
"Tetap buka dengan protap yang berlaku agar menekan penyebaran covid-19, termasuk jaga jarak," sebutnya.
Penurunan juga terjadi di industri ini, Teguh melanjutkan, saat ini memang sektor ini cukup terdampak 10 hingga 30 persen. Ritel sendiri tak jauh berbeda dengan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang terdampak signifikan di masa pandemi covid-19 saat ini.
"UMKM juga terdampak, pelaku usaha yang saya temui termasuk ketua UMKM Samarinda juga mengaku terdampak hingga 40 persen, karena memang pasar sudah berkurang, harus ada inovasi yang dibuat. Kalau saya memperkirakan ritel sendiri tak jauh beda karena bahan baku sendiri para pelaku usaha UMKM mengambil barang dari distributor ritel, memang dampaknya 10 hingga 30 persen," papar Teguh
Teguh tetap berharap dan berdoa masa pandemi ini agar segera selesai agar aktivitas bisnis kembali normal serta tidak ada karyawan yang terpaksa harus dirumahkan karena dampak Covid-19. (*)
Penulis : Fairus
Editor: Aspian Nur
Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Kaltim Gatot Teguh Januar menjelaskan, situasi ditengah pandemi ini memang membuat pertemuan terbatas, menurut pengamatannya dampak dari wabah sangat terasa meskipun ada saja konsumen yang masih membeli dan mengarahkan pembelian lebih ke bahan pokok demi memenuhi kebutuhan keseharian.
"Ritel seperti non bahan pokok (baju, mainan dll) mulai menurun, konsumen lebih mengarah kepada kebutuhan pokok sehari-hari. Lebih safety (hati-hati) dalam pengeluaran, cenderung berbelanja ke bahan pokok," sebutnya Senin (20/4/2020) tadi
Ritel-ritel yang tetap buka, disebut Teguh, masih tetap buka dengan protap (prosedur tetap) pada karyawan sesuai anjuran pemerintah, seperti menggunakan masker, pengecekan suhu, menyediakan tempat cuci tangan dengan perlengkapan sabun cuci dan air mengalir.
Semua gerai retail modern juga melakukan sanitasi rutin di semua peralatan kerja dan semua properti karyawan, seperti laci, loker, musola, kamar mandi dan lainnya.
"Tetap buka dengan protap yang berlaku agar menekan penyebaran covid-19, termasuk jaga jarak," sebutnya.
Penurunan juga terjadi di industri ini, Teguh melanjutkan, saat ini memang sektor ini cukup terdampak 10 hingga 30 persen. Ritel sendiri tak jauh berbeda dengan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang terdampak signifikan di masa pandemi covid-19 saat ini.
"UMKM juga terdampak, pelaku usaha yang saya temui termasuk ketua UMKM Samarinda juga mengaku terdampak hingga 40 persen, karena memang pasar sudah berkurang, harus ada inovasi yang dibuat. Kalau saya memperkirakan ritel sendiri tak jauh beda karena bahan baku sendiri para pelaku usaha UMKM mengambil barang dari distributor ritel, memang dampaknya 10 hingga 30 persen," papar Teguh
Teguh tetap berharap dan berdoa masa pandemi ini agar segera selesai agar aktivitas bisnis kembali normal serta tidak ada karyawan yang terpaksa harus dirumahkan karena dampak Covid-19. (*)
Penulis : Fairus
Editor: Aspian Nur