“Berbeda dengan kegiatan ekspor-impor dan UMKM yang menawarkan produk jualan, tidak perlu ada massa untuk bertranksaksi. Sedangkan, pariwisata ini kan sifatnya massal. Nilai tukarnya ya aktivitas man to man atau people to people,” kata Sofyan Rabu (25/3/2020) kemarin.
Aturan tegas seperti pemerintah membatasi kegiatan perjalanan dari luar negeri dan physical distancing menyumbang peranan yang dominan atas menurunnya kunjungan pariwisata Kaltim. Selain itu, beberapa negara lain yang menutup penerbangannya ke Indonesia juga menjadi salah satu alasan pariwisata Indonesia, khususnya Kaltim akan sangat mengalami kesulitan.
“Kebijakan pemerintah saat ini sebenarnya yang meyebabkan pariwisata Kaltim akan berada dalam tahap yang stagnan. Tidak ada kunjungan, maka tidak akan ada pemasukan. Kembali lagi, perekonomian akan menjadi goyah,” papar Sofyan.
Sofyan melihat risiko tersebut memang lumrah terjadi karena dengan mengambil upaya tersebut penyebaran virus akan dapat dihentikan. Tempat pariwisata yang identik dengan bergumulnya banyak manusia memiliki peluang tertular virus corona sangat besar.
“Mau tidak mau pemerintah memang harus mengambil keputusan tegas dengan menghentikan terlebih dahulu aktivitas pariwisata agar penyebarannya juga bisa dapat ditekan,” pungkasnya. (*)
Penulis: */Meiliyana
Editor: Aspian Nur
“Berbeda dengan kegiatan ekspor-impor dan UMKM yang menawarkan produk jualan, tidak perlu ada massa untuk bertranksaksi. Sedangkan, pariwisata ini kan sifatnya massal. Nilai tukarnya ya aktivitas man to man atau people to people,” kata Sofyan Rabu (25/3/2020) kemarin.
Aturan tegas seperti pemerintah membatasi kegiatan perjalanan dari luar negeri dan physical distancing menyumbang peranan yang dominan atas menurunnya kunjungan pariwisata Kaltim. Selain itu, beberapa negara lain yang menutup penerbangannya ke Indonesia juga menjadi salah satu alasan pariwisata Indonesia, khususnya Kaltim akan sangat mengalami kesulitan.
“Kebijakan pemerintah saat ini sebenarnya yang meyebabkan pariwisata Kaltim akan berada dalam tahap yang stagnan. Tidak ada kunjungan, maka tidak akan ada pemasukan. Kembali lagi, perekonomian akan menjadi goyah,” papar Sofyan.
Sofyan melihat risiko tersebut memang lumrah terjadi karena dengan mengambil upaya tersebut penyebaran virus akan dapat dihentikan. Tempat pariwisata yang identik dengan bergumulnya banyak manusia memiliki peluang tertular virus corona sangat besar.
“Mau tidak mau pemerintah memang harus mengambil keputusan tegas dengan menghentikan terlebih dahulu aktivitas pariwisata agar penyebarannya juga bisa dapat ditekan,” pungkasnya. (*)
Penulis: */Meiliyana
Editor: Aspian Nur