Dari data Badan Pusat Statistik Kalimantan Timur 2019 tercatat inflasi tahunan Kaltim sebesar 1,66 persen. Angka tersebut tentu sangatlah jauh dari batas yang ditetapkap yaitu 3,00 persen. Pada tahun 2020 ini inflasi Kaltim diperkirakan meningkat, jika melihat sumber peningkatan inflasi dari rencana beberapa kenaikan tarif seperti cukai rokok, jalan tol dan BPJS.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Anggoro Dwitjahyono menjelaskan, dalam hal ini secara tugas dan wewenang pihaknya tentu bukan pembuat prediksi.
Namun, ketika ada salah satu sektor yang meningkat tarifnya pasti juga mempengaruhi inflasi. Untuk tahun ini inflasi memang menjadi perhatian, sebab peningkatan listrik ini otomatis mempengaruhi seluruh biaya produksi.
“Seperti misalnya tarif bahan bakar minyak (BBM) meningkat, terjadi efek pada transportasi, tarif BPJS meningkat juga pasti ada efek dari itu,” ucap Anggoro.
Dia menambahkan, berbagai upaya juga dilakukan Pemprov Kaltim dalam pengendalian dini terhadap inflasi, guna menatap tahun yang baru ini, antara lain dengan membentuk Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di semua kabupaten/kota di Kaltim. Selama ini diketahui baru dua kota yang sudah dibentuk TPID yaitu Samarinda dan Balikpapan.
“TPID sendiri sudah dibentuk di seluruh kabupaten/kota di Kaltim. Pada rapat TPID Kaltim Desember lalu, hanya Samarinda dan Balikpapan yang melaporkan inflasi. Daerah lainnya hanya menyampaikan perubahan berupa peningkatan atau penurunan harga saja,” tutur Anggoro.
Anggoro juga menilai pembatalan kenaikan tarif listrik ini membuatnya yakin inflasi tahun ini akan terkendali, serta menjaga stabilitas komoditas lain seperti yang terjadi pada 2019 lalu.
“Saya meyakini inflasi masih sangat baik, juga tim pengendali inflasi daerah (TPID) Kaltim terus bekerja maksimal,” ucapnya.
Penulis: */Fairus
Editor: M. Huldi
Dari data Badan Pusat Statistik Kalimantan Timur 2019 tercatat inflasi tahunan Kaltim sebesar 1,66 persen. Angka tersebut tentu sangatlah jauh dari batas yang ditetapkap yaitu 3,00 persen. Pada tahun 2020 ini inflasi Kaltim diperkirakan meningkat, jika melihat sumber peningkatan inflasi dari rencana beberapa kenaikan tarif seperti cukai rokok, jalan tol dan BPJS.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Anggoro Dwitjahyono menjelaskan, dalam hal ini secara tugas dan wewenang pihaknya tentu bukan pembuat prediksi.
Namun, ketika ada salah satu sektor yang meningkat tarifnya pasti juga mempengaruhi inflasi. Untuk tahun ini inflasi memang menjadi perhatian, sebab peningkatan listrik ini otomatis mempengaruhi seluruh biaya produksi.
“Seperti misalnya tarif bahan bakar minyak (BBM) meningkat, terjadi efek pada transportasi, tarif BPJS meningkat juga pasti ada efek dari itu,” ucap Anggoro.
Dia menambahkan, berbagai upaya juga dilakukan Pemprov Kaltim dalam pengendalian dini terhadap inflasi, guna menatap tahun yang baru ini, antara lain dengan membentuk Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di semua kabupaten/kota di Kaltim. Selama ini diketahui baru dua kota yang sudah dibentuk TPID yaitu Samarinda dan Balikpapan.
“TPID sendiri sudah dibentuk di seluruh kabupaten/kota di Kaltim. Pada rapat TPID Kaltim Desember lalu, hanya Samarinda dan Balikpapan yang melaporkan inflasi. Daerah lainnya hanya menyampaikan perubahan berupa peningkatan atau penurunan harga saja,” tutur Anggoro.
Anggoro juga menilai pembatalan kenaikan tarif listrik ini membuatnya yakin inflasi tahun ini akan terkendali, serta menjaga stabilitas komoditas lain seperti yang terjadi pada 2019 lalu.
“Saya meyakini inflasi masih sangat baik, juga tim pengendali inflasi daerah (TPID) Kaltim terus bekerja maksimal,” ucapnya.
Penulis: */Fairus
Editor: M. Huldi