Hal ini diungkapkan Kasubsi Pelayanan Operasional Balai Karantina Hasil Pertanian, Stasiun Karantina Kelas I Samarinda Muthohar Udin yang membeberkan beberapa faktor seperti banyaknya syarat dan aturan yang berlaku ke negara tujuan ekspor.
China dicontohkannya. Sarang walet yang akan diekspor ke negara tersebut harus mendapat perlakuan khusus. Suhu panas diatur pada 70 derajat celcius salama 3,5 detik untuk menonaktifkan virus avian influenza.
Serta kandungan nitrit produk yang diekspor tak lebih dari 30 ppm, jaminan asal-usul (traceability) sarang sampai ke rumah walet. “Memang yang terpenting sekarang harus ada tempat pemrosesan yang bisa registrasi, dari sini dan China. Sampai saat ini untuk wilayah Kaltim belum ada,” kata Muthohar Ahad (23/12/2019) lalu.
Kalau hal ini menjadi bagian penting agar sarang walet dari Kaltim bisa memenuhi persyaratan dan aturan dari negara China, serta mampu langsung mengekspor tanpa melalui lintas area atau daerah yang memiliki tempat pemprosesan lebih dulu.
Untuk pengiriman sarang burung walet melalui Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Samarinda sendiri, terjadi peningkatan jumlah yang sangat signifikan, dirinya menjelaskan tahun 2017 sampai 2018 terjadi lonjakan hingga 761,5 persen. “Tahun 2017 pengiriman keluar sarang burung walet 839 kg dengan frekuensi 33 kali pengiriman, sementara pada tahun 2018 volume keluar yang tercatat adalah 7.228 kg dengan frekuensi 130 kali pengiriman,” urainya.
Meningkatnya pengiriman hingga sebesar itu, bisa jadi disebabkan beberapa faktor antara lain terbukanya pasar ekspor China yang melalui luar Kaltim, seperti Jawa. Semakin banyaknya pelaku-pelaku usaha industri sarang walet yaitu produksi dan pengiriman di Samarinda hingga kabupaten/kota lain di Kaltim.
Serta beroperasinya Bandara APT Pranoto di Samarinda. Muthohar juga menyebut tahun ini saja pengiriman sarang burung walet kembali meningkat. “Sampai 20 Oktober 2019 ini, pengiriman sarang burung walet yang tercatat sejumlah 7.015 Kg dengan frekuensi sebanyak 234 kali pengiriman,” tuturnya.
Muthohar berharap potensi sarang burung walet bisa dirasakan para pelaku usaha agar mendapat hasil yang maksimal. Dari segi harga akan lebih tinggi ketika sudah dilakukan pemrosesan hingga nantinya langsung di ekspor tanpa melalui area lain.
Itupun jika regulasi dan persyaratannya sudah mampu dipenuhi, maka dipastikan produk sarang burung walet Kaltim bisa menembus pasar ekspor negara lainnya. Maka sebagai salah satu daerah penghasil sarang walet terbanyak dengan kualitas yang sangat baik. Peluang untuk membuka tempat pemprosesan sangat terbuka lebar. (*)
Penulis: */Fairus
Editor: Aspian Nur
Hal ini diungkapkan Kasubsi Pelayanan Operasional Balai Karantina Hasil Pertanian, Stasiun Karantina Kelas I Samarinda Muthohar Udin yang membeberkan beberapa faktor seperti banyaknya syarat dan aturan yang berlaku ke negara tujuan ekspor.
China dicontohkannya. Sarang walet yang akan diekspor ke negara tersebut harus mendapat perlakuan khusus. Suhu panas diatur pada 70 derajat celcius salama 3,5 detik untuk menonaktifkan virus avian influenza.
Serta kandungan nitrit produk yang diekspor tak lebih dari 30 ppm, jaminan asal-usul (traceability) sarang sampai ke rumah walet. “Memang yang terpenting sekarang harus ada tempat pemrosesan yang bisa registrasi, dari sini dan China. Sampai saat ini untuk wilayah Kaltim belum ada,” kata Muthohar Ahad (23/12/2019) lalu.
Kalau hal ini menjadi bagian penting agar sarang walet dari Kaltim bisa memenuhi persyaratan dan aturan dari negara China, serta mampu langsung mengekspor tanpa melalui lintas area atau daerah yang memiliki tempat pemprosesan lebih dulu.
Untuk pengiriman sarang burung walet melalui Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Samarinda sendiri, terjadi peningkatan jumlah yang sangat signifikan, dirinya menjelaskan tahun 2017 sampai 2018 terjadi lonjakan hingga 761,5 persen. “Tahun 2017 pengiriman keluar sarang burung walet 839 kg dengan frekuensi 33 kali pengiriman, sementara pada tahun 2018 volume keluar yang tercatat adalah 7.228 kg dengan frekuensi 130 kali pengiriman,” urainya.
Meningkatnya pengiriman hingga sebesar itu, bisa jadi disebabkan beberapa faktor antara lain terbukanya pasar ekspor China yang melalui luar Kaltim, seperti Jawa. Semakin banyaknya pelaku-pelaku usaha industri sarang walet yaitu produksi dan pengiriman di Samarinda hingga kabupaten/kota lain di Kaltim.
Serta beroperasinya Bandara APT Pranoto di Samarinda. Muthohar juga menyebut tahun ini saja pengiriman sarang burung walet kembali meningkat. “Sampai 20 Oktober 2019 ini, pengiriman sarang burung walet yang tercatat sejumlah 7.015 Kg dengan frekuensi sebanyak 234 kali pengiriman,” tuturnya.
Muthohar berharap potensi sarang burung walet bisa dirasakan para pelaku usaha agar mendapat hasil yang maksimal. Dari segi harga akan lebih tinggi ketika sudah dilakukan pemrosesan hingga nantinya langsung di ekspor tanpa melalui area lain.
Itupun jika regulasi dan persyaratannya sudah mampu dipenuhi, maka dipastikan produk sarang burung walet Kaltim bisa menembus pasar ekspor negara lainnya. Maka sebagai salah satu daerah penghasil sarang walet terbanyak dengan kualitas yang sangat baik. Peluang untuk membuka tempat pemprosesan sangat terbuka lebar. (*)
Penulis: */Fairus
Editor: Aspian Nur