Dengan energi yang murah, kata dia sebuah industri akan memiliki keunggulan. Karena energi dan tenaga kerja yang murah, merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi berkembangnya sebuah industri. "Industri itu, kalau energi murah dan tenaga kerja murah. Bahan baku murah. Transportasi murah. Kalau 4 ini kita murah, kita sudah unggul. Ditambah kualitas produk akhir," sebutnya lagi.
Batu bara masuk dalam satu komponen ini. Jika ke depan dipakai untuk keperluan produksi dalam industri, maka dengan potensi yang berlimpah ini faktor produksinya akan lebih murah. "Tenaga kerja kita murah, jadi jangan kita jual murah keluar," tuturnya.
Kebijakan Domestic Marketing Obligation (DMO), atau kewajiban memenuhi kebutuhan batubara lokal, sebanyak 25 persen dari total produksi tahunan, disebut Baihaqi sebagai salah satu langkah pemerintah mendorong batubara tak lagi diboyong keluar.
"Tak cuma 25 persen. Pemerintah inginnya 100 persen. Kita ga usah ada yang keluar. Sebisa mungkin untuk dalam negeri. Karena negara lain juga begitu. Tapi karena kita tidak siap. Industri hilir kita kan belum siap," sebut Baihaqi.
Seirama dengan Baihaqi, Wakil Ketua DPRD Kaltim dari Partai Gerindra Andi Harun, mengemukakan ide serupa. Andi, bahkan memberikan rencana aksi melalui perwujudan kedaulatan energi khususnya bagi Kota Samarinda, sebagai kota penting dan ibukota Kaltim.
Langkah diambil di Samarinda, diharapkan akan menjadi pengungkit daerah lainnya. "Samarinda harus punya pembangkit listrik tenaga uap. Karena batubara selama ini hanya dipandang sebagai komoditas. Padahal kita bisa manfaatkan itu," kata Andi Harun ditemuai terpisah dalam Diskusi Publik Samarinda sebagai Kota Penyangga Ibukota Negara (IKN) di Hotel Selyca Mulia, Sabtu (21/12/2019) akhir pekan lalu.
Batu bara katanya sudah selayaknya menjadi modal pembangunan. Tak hanya sekedar dijadikan komoditas dagang dan ekspor dalam bentuk mentah. Tak bisa dipungkiri, faktor dominan ekonomi Kaltim masih berasal dari batubara.
Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Ekonomi Triwulan III-2019 dibanding Triwulan III-2018 (tahunan) tumbuh sebesar 6,89 persen.
Angka fantastis itu, dipersembahkan paling tinggi dari lapangan usaha pertambangan dan penggalian yang tumbuh sebesar 11,46 persen.
Bahkan, dalam struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim, dominasi lapangan usaha pertambangan dan penggalian memberi andil mencapai 45,14 persen. Sementara industri pengolahan hanya menyumbang peranan sebesar 18,01 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (Kpw BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono menyebut, tren positif melesatnya ekonomi Kaltim disebabkan oleh tingginya permintaan batubara dari Tiongkok, pada triwulan III. Padahal, pada akhir triwulan II 2019, BI sempat memprediksi akan terjadi penurunan permintaan karena adanya kebijakan restriksi atau pembatasan impor dari negeri Tirai Bambu itu.
"China tahun ini kenapa kuat sekali impor dari kita. Karena mereka punya proyek elektrifikasi listrik sampai ke daerah terpencil. Menggunakan batubara. Cukup kuat makanya permintaan tinggi," kata Tutuk kepada Koran Kaltim ditemui usai Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Jalan Gajah Mada Samarinda belum lama ini.
Hal ini kemudian, yang kat Tutuk perlu menjadi perhatian. Pasalnya, hampir bisa dipastikan pasca terpenuhinya stok batubara yang diperlukan Tiongkok pad triwulan III 2019, maka permintaan batubara dari Kaltim juga akan menurun. "Tahun depan, harga pasti akan turun. Restriksi mulai diberlakukan. Makanya kami perkirakan pertumbuhan ekonomi tak setinggi sekarang," ucapnya.
Belajar dari fenomena ini, Tutuk menyarankan Kaltim segera melakukan antisipasi. Memaksimalkan keunggulan yang dimiliki, tak hanya sekedar keunggulan komparatif. "Artinya keunggulan yang kita punya, orang lain tidak punya. Harus dilanjutkan dengan keunggulan kompetitif. Yakni boleh saja kita sama-sama punya, tapi kita harus lebih baik," bebernya.
Optimalisasi penggunaan batubara sebagai penggerak bagi pemenuhan energi domestik, bagi Kaltim sendiri adalah salah satu cara. Setelah energi terpenuhi, selanjutnya akan mendorong terbangunnya infrastruktur konektivitas, yang akan menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. "Kalau ini dilakukan, sudah. Cepat kita tumbuh," pungkas Tutuk. (*)
Penulis : Rusdianto
Editor: Aspian Nur
Dengan energi yang murah, kata dia sebuah industri akan memiliki keunggulan. Karena energi dan tenaga kerja yang murah, merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi berkembangnya sebuah industri. "Industri itu, kalau energi murah dan tenaga kerja murah. Bahan baku murah. Transportasi murah. Kalau 4 ini kita murah, kita sudah unggul. Ditambah kualitas produk akhir," sebutnya lagi.
Batu bara masuk dalam satu komponen ini. Jika ke depan dipakai untuk keperluan produksi dalam industri, maka dengan potensi yang berlimpah ini faktor produksinya akan lebih murah. "Tenaga kerja kita murah, jadi jangan kita jual murah keluar," tuturnya.
Kebijakan Domestic Marketing Obligation (DMO), atau kewajiban memenuhi kebutuhan batubara lokal, sebanyak 25 persen dari total produksi tahunan, disebut Baihaqi sebagai salah satu langkah pemerintah mendorong batubara tak lagi diboyong keluar.
"Tak cuma 25 persen. Pemerintah inginnya 100 persen. Kita ga usah ada yang keluar. Sebisa mungkin untuk dalam negeri. Karena negara lain juga begitu. Tapi karena kita tidak siap. Industri hilir kita kan belum siap," sebut Baihaqi.
Seirama dengan Baihaqi, Wakil Ketua DPRD Kaltim dari Partai Gerindra Andi Harun, mengemukakan ide serupa. Andi, bahkan memberikan rencana aksi melalui perwujudan kedaulatan energi khususnya bagi Kota Samarinda, sebagai kota penting dan ibukota Kaltim.
Langkah diambil di Samarinda, diharapkan akan menjadi pengungkit daerah lainnya. "Samarinda harus punya pembangkit listrik tenaga uap. Karena batubara selama ini hanya dipandang sebagai komoditas. Padahal kita bisa manfaatkan itu," kata Andi Harun ditemuai terpisah dalam Diskusi Publik Samarinda sebagai Kota Penyangga Ibukota Negara (IKN) di Hotel Selyca Mulia, Sabtu (21/12/2019) akhir pekan lalu.
Batu bara katanya sudah selayaknya menjadi modal pembangunan. Tak hanya sekedar dijadikan komoditas dagang dan ekspor dalam bentuk mentah. Tak bisa dipungkiri, faktor dominan ekonomi Kaltim masih berasal dari batubara.
Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Ekonomi Triwulan III-2019 dibanding Triwulan III-2018 (tahunan) tumbuh sebesar 6,89 persen.