Sadar berkhasiat untuk kesehatan, seorang warga Balikpapan, Tinggal (50) meramu daun kelor menjadi minuman yang disukai banyak orang. Ya, kopi dari daun kelor.
Usaha itu ia awali dari keinginan memadukan minuman menyehatkan dengan kegemaran masyarakat minum kopi. “Memang idenya dari sana. Saya jadikan kopi supaya dapat manfaat,” katanya, Jumat (8/11).
Kopi Daun Kelor dirintis sejak 2014 dan dijual Rp30 ribu untuk tiap botol kemasan.
Tinggal pun senang karena usahanya itu turut diperkenalkan oleh Pemerintah Kota Balikpapan.
Tak jarang dirinya dilibatkan dalam setiap pameran produk lokal, pelatihan hingga membantu dalam promosi Kopi Daun Kelor ke masyarakat. Sekali produksi bisa menghasilkan 600 botol.
“Kendalanya di bahan baku. Saat ini saya baru bisa produksi 4 hari sekali,” ungkapnya yang juga pegawai Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Balikpapan.
Selain karena kendala bahan baku, kesibukannya sebagai abdi negara membuat usaha Kopi Daun Kelor belum bisa berproduksi tinggi. “Belum ada masyarakat yang mau menanam daun kelor,” ucapnya.
Bahan baku untuk produksi daun kelor dia penuhi dari kebun sendiri seluas 300 meter persegi. “Ya kondisinya begini, jadi nggak berharap bisa banyak produksi,” tandasnya.
Penulis: */Hendra
Editor: M.Huldi
Sadar berkhasiat untuk kesehatan, seorang warga Balikpapan, Tinggal (50) meramu daun kelor menjadi minuman yang disukai banyak orang. Ya, kopi dari daun kelor.
Usaha itu ia awali dari keinginan memadukan minuman menyehatkan dengan kegemaran masyarakat minum kopi. “Memang idenya dari sana. Saya jadikan kopi supaya dapat manfaat,” katanya, Jumat (8/11).
Kopi Daun Kelor dirintis sejak 2014 dan dijual Rp30 ribu untuk tiap botol kemasan.
Tinggal pun senang karena usahanya itu turut diperkenalkan oleh Pemerintah Kota Balikpapan.
Tak jarang dirinya dilibatkan dalam setiap pameran produk lokal, pelatihan hingga membantu dalam promosi Kopi Daun Kelor ke masyarakat. Sekali produksi bisa menghasilkan 600 botol.
“Kendalanya di bahan baku. Saat ini saya baru bisa produksi 4 hari sekali,” ungkapnya yang juga pegawai Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Balikpapan.
Selain karena kendala bahan baku, kesibukannya sebagai abdi negara membuat usaha Kopi Daun Kelor belum bisa berproduksi tinggi. “Belum ada masyarakat yang mau menanam daun kelor,” ucapnya.
Bahan baku untuk produksi daun kelor dia penuhi dari kebun sendiri seluas 300 meter persegi. “Ya kondisinya begini, jadi nggak berharap bisa banyak produksi,” tandasnya.
Penulis: */Hendra
Editor: M.Huldi