Sejumlah produk yang dimaksud, yaitu Pepsi Regular, Pepsi Blue, Pepsi Twist, Pepsi Cola, Mirinda Strawberry, Mirinda Root Berry, 7-UP Emerald, 7-UP Revive, A&W Root Bear, Tekita, dan Canada Dry.
Seiring berjalannya waktu, Indofood CBP Sukses Makmur mengakuisisi PT Pepsi-Cola Indobeverages (PCIB) pada 2013 lalu. Akuisisi itu dilakukan oleh anak usahanya bernama PT Indofood Asahi Sukses Baverage (IASB) dan PT Asahi Indofood Baverage Makmur (AIBM). Setelah akuisisi, Pepsi-Cola Indobeverages resmi menjadi unit usaha di Grup Indofood yang berada di sektor minuman ringan. Kontrak kerja sama Pepsi dengan Grup Indofood dievaluasi setiap tahun, di mana kontraknya habis setiap 10 Oktober.
Tahun ini, Grup Indofood sepakat untuk mengakhiri kontrak kerja samanya. Artinya, perusahaan tak akan lagi memproduksi minuman Pepsi ke depannya. Head of Sales and Marketing PepsiCo Indonesia Andina Mutya mengatakan Asahi Indofood Baverage Makmur tak akan lagi memproduksi, menjual, dan mendistribusikan minuman untuk PepsiCo per 10 Oktober 2019 besok. "AIBM dan PepsiCo Inc (PepsiCo) telah sepakat untuk mengakhiri kontrak pembotolan antara kedua perusahaan," ucapnya seperti dikutip dari CNNIndonesia.com belum lama ini.
Pihak PepsiCo Indonesia sendiri tak menjelaskan secara gamblang alasan dibalik berhentinya kontrak kerja sama dengan Grup Indofood. Yang pasti, ini merupakan keputusan komersial di antara keduanya.
Dihubungi terpisah, Ketua Asosiasi Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengakui penjualan minuman berkarbonasi atau bersoda turun di Indonesia setiap tahun. Dengan kata lain, pengusaha di sektor itu harus terus gigit jari karena pertumbuhan penjualannya negatif. "Mungkin bisa jadi keputusan komersial tidak diperpanjang disebabkan minuman bersoda secara umumnya pertumbuhannya negatif," kata Adhi.
Menurutnya, penjualan minuman berkarbonasi turun 1 sampai 2 persen per tahunnya. Ia belum melakukan kajian secara pasti penyebab penurunan penjualan minuman berkarbonasi di Indonesia.
Namun, ia berspekulasi penurunan permintaan minuman berkarbonasi karena semakin banyak pilihan minuman yang ditawarkan untuk masyarakat sekarang. Makanya, pemerintah dan pelaku usaha perlu mengkaji lebih detail minuman apa yang dicari oleh generasi milenial saat ini. "Bisa jadi konsumen beralih, varian minuman banyak. Ada rasa buah, cokelat, kopi, dan lain-lain," ucap Adhi. (*)
Sejumlah produk yang dimaksud, yaitu Pepsi Regular, Pepsi Blue, Pepsi Twist, Pepsi Cola, Mirinda Strawberry, Mirinda Root Berry, 7-UP Emerald, 7-UP Revive, A&W Root Bear, Tekita, dan Canada Dry.
Seiring berjalannya waktu, Indofood CBP Sukses Makmur mengakuisisi PT Pepsi-Cola Indobeverages (PCIB) pada 2013 lalu. Akuisisi itu dilakukan oleh anak usahanya bernama PT Indofood Asahi Sukses Baverage (IASB) dan PT Asahi Indofood Baverage Makmur (AIBM). Setelah akuisisi, Pepsi-Cola Indobeverages resmi menjadi unit usaha di Grup Indofood yang berada di sektor minuman ringan. Kontrak kerja sama Pepsi dengan Grup Indofood dievaluasi setiap tahun, di mana kontraknya habis setiap 10 Oktober.
Tahun ini, Grup Indofood sepakat untuk mengakhiri kontrak kerja samanya. Artinya, perusahaan tak akan lagi memproduksi minuman Pepsi ke depannya. Head of Sales and Marketing PepsiCo Indonesia Andina Mutya mengatakan Asahi Indofood Baverage Makmur tak akan lagi memproduksi, menjual, dan mendistribusikan minuman untuk PepsiCo per 10 Oktober 2019 besok. "AIBM dan PepsiCo Inc (PepsiCo) telah sepakat untuk mengakhiri kontrak pembotolan antara kedua perusahaan," ucapnya seperti dikutip dari CNNIndonesia.com belum lama ini.
Pihak PepsiCo Indonesia sendiri tak menjelaskan secara gamblang alasan dibalik berhentinya kontrak kerja sama dengan Grup Indofood. Yang pasti, ini merupakan keputusan komersial di antara keduanya.
Dihubungi terpisah, Ketua Asosiasi Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengakui penjualan minuman berkarbonasi atau bersoda turun di Indonesia setiap tahun. Dengan kata lain, pengusaha di sektor itu harus terus gigit jari karena pertumbuhan penjualannya negatif. "Mungkin bisa jadi keputusan komersial tidak diperpanjang disebabkan minuman bersoda secara umumnya pertumbuhannya negatif," kata Adhi.
Menurutnya, penjualan minuman berkarbonasi turun 1 sampai 2 persen per tahunnya. Ia belum melakukan kajian secara pasti penyebab penurunan penjualan minuman berkarbonasi di Indonesia.
Namun, ia berspekulasi penurunan permintaan minuman berkarbonasi karena semakin banyak pilihan minuman yang ditawarkan untuk masyarakat sekarang. Makanya, pemerintah dan pelaku usaha perlu mengkaji lebih detail minuman apa yang dicari oleh generasi milenial saat ini. "Bisa jadi konsumen beralih, varian minuman banyak. Ada rasa buah, cokelat, kopi, dan lain-lain," ucap Adhi. (*)