“Sudah terkoneksi semua, bahkan print out transaksi kami pakai aplikasi android, jadi data transaksi masuk ke sistem dan bisa kami pantau secara real time,” kata Ahmad Tohir, Jumat (27/9).
Sistem itu sekaligus untuk menekan praktik pengetapan BBM bersubsidi yakni solar dan premium. Pasalnya, semua transaksi kini sudah terekam. Walau masih berupa proyek uji coba.
“Kalau dulu kan ada tangki kendaraan dimodifikasi, bisa mengisi BBM lebih dari standar tangkinya. Sekarang, kalau ada yang isi BBM melebihi kapasitas tangki, misal seharusnya 200 liter tapi ngisinya 500 liter untuk satu kendaraan, ya sudah ketahuan,” jelasnya.
Bahkan alat digital juga terpasang di tangki pendam SPBU. Fungsinya untuk mengetahui kapasitas dan BBM yang tersisa serta mencegah praktik nakal pihak SPBU maupun sopir truk tangki BBM.
“Contohnya nih, BBM masih banyak dan tidak dijual pihak SPBU atau sopir tidak membongkar semua isi mobil tangki, ya sekarang itu pasti ketahuan,” terangnya.
Pertamina menargetkan digitalisasi SPBU rampung secara nasional pada tahun ini. Walau diakui tidak mudah membangun sistem digital. Tergantung konektivitas jaringan internet di setiap wilayah.
“Kerja samanya kan dengan Telkom untuk penyedia infrastruktur, dan mereka juga kewalahan. Kebanyakan sistem ini sudah jalan di Pulau Jawa,” ungkapnya.
Selain jaringan, spesifikasi mesin di SPBU juga ada yang harus diubah agar sistem digital itu bisa terkoneksi. Sedangkan mengubah mesin juga mesti melibatkan pihak meterologi.
“Iya, mesin itu kan setelah terpasang dan ditera, lalu disegel oleh meterologi. Kami dan pihak SPBU tidak berani dan tidak berhak melepas segel,” sambungnya.
Ditambah lagi, beberapa SPBU juga menggunakan jasa vendor jaringan internet yang berbeda. Maka, Pertamina ingin melakukan penyeragaman agar setiap SPBU memiliki kesamaan dalam sistem digital.
“Kalau jadi satu sistem, kan Pertamina bahkan BPH Migas bisa melakukan pengecekan, datanya bisa langsung ditarik, kalau sekarang ada yang belum bisa karena masing-masing vendor berbeda kebijakannya,” tandas Tohir.
Penulis: */Hendra
Editor: M. Huldi
“Sudah terkoneksi semua, bahkan print out transaksi kami pakai aplikasi android, jadi data transaksi masuk ke sistem dan bisa kami pantau secara real time,” kata Ahmad Tohir, Jumat (27/9).
Sistem itu sekaligus untuk menekan praktik pengetapan BBM bersubsidi yakni solar dan premium. Pasalnya, semua transaksi kini sudah terekam. Walau masih berupa proyek uji coba.
“Kalau dulu kan ada tangki kendaraan dimodifikasi, bisa mengisi BBM lebih dari standar tangkinya. Sekarang, kalau ada yang isi BBM melebihi kapasitas tangki, misal seharusnya 200 liter tapi ngisinya 500 liter untuk satu kendaraan, ya sudah ketahuan,” jelasnya.
Bahkan alat digital juga terpasang di tangki pendam SPBU. Fungsinya untuk mengetahui kapasitas dan BBM yang tersisa serta mencegah praktik nakal pihak SPBU maupun sopir truk tangki BBM.
“Contohnya nih, BBM masih banyak dan tidak dijual pihak SPBU atau sopir tidak membongkar semua isi mobil tangki, ya sekarang itu pasti ketahuan,” terangnya.
Pertamina menargetkan digitalisasi SPBU rampung secara nasional pada tahun ini. Walau diakui tidak mudah membangun sistem digital. Tergantung konektivitas jaringan internet di setiap wilayah.
“Kerja samanya kan dengan Telkom untuk penyedia infrastruktur, dan mereka juga kewalahan. Kebanyakan sistem ini sudah jalan di Pulau Jawa,” ungkapnya.
Selain jaringan, spesifikasi mesin di SPBU juga ada yang harus diubah agar sistem digital itu bisa terkoneksi. Sedangkan mengubah mesin juga mesti melibatkan pihak meterologi.
“Iya, mesin itu kan setelah terpasang dan ditera, lalu disegel oleh meterologi. Kami dan pihak SPBU tidak berani dan tidak berhak melepas segel,” sambungnya.
Ditambah lagi, beberapa SPBU juga menggunakan jasa vendor jaringan internet yang berbeda. Maka, Pertamina ingin melakukan penyeragaman agar setiap SPBU memiliki kesamaan dalam sistem digital.
“Kalau jadi satu sistem, kan Pertamina bahkan BPH Migas bisa melakukan pengecekan, datanya bisa langsung ditarik, kalau sekarang ada yang belum bisa karena masing-masing vendor berbeda kebijakannya,” tandas Tohir.
Penulis: */Hendra
Editor: M. Huldi