“Sebenarnya ini penelitian mahasiswa tahap akhir dan murni plastik. Kalau pasir putih sebagai katalisator panas supaya bisa diproduksi jadi paving block, bisa juga jadi batako,” kata Rahmat Sabtu (27/7) lalu.
Dalam pembuatan paving block, penggunaan semen diganti dengan plastik melalui proses pengovenan. Kemudian dilakukan penekanan dengan komposisi bahan 50 persen : 50 persen. “Kalau plastik 2 kg, ya pasirnya 2 kg juga,” ujarnya.
Menariknya, pasir putih yang digunakan berasal dari Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar). Dipilihnya pasir tersebut karena punya karakteristik tersendiri. “Pernah kami oven 200 derajat celcius, tekstur dan warna pasir tidak berubah,” ungkapnya.
Penelitian ini baru dijalankan sebulan lalu dan paving block yang dihasilkan diklaim lebih kuat ketimbang dari bahan semen. Telah dilakukan uji coba dengan memukul menggunakan palu ke paving block dan hasilnya mampu menahan tekanan hingga 20 MPa. “Kalau paving block biasa cuma 16 - 18 MPa. Tentu yang dari plastik ini lebih kuat,” terangnya.
Hasil penelitian ini mendapat perhatian Wakil Wali Kota (Wawali) Balikpapan, Rahmad Mas’ud. Diakuinya, temuan ini turut menjadi salah satu cara untuk mengurangi sampah plastik. Dirinya pun bakal membantu untuk mencarikan investor.
“Ini kan menarik, tentu harus didukung. Kalau mereka (mahasiswa, Red) siap produksi, ya kami membantu untuk mencarikan investor,” kata Rahmad.
Ia juga berharap agar uji coba produksi paving block dilakukan untuk tingkat RT sebagai percontohan. “Kalau sudah OK, baru dipasarkan ke lain,” tandasnya.
Penulis: */Hendra
Editor: M.Huldi
“Sebenarnya ini penelitian mahasiswa tahap akhir dan murni plastik. Kalau pasir putih sebagai katalisator panas supaya bisa diproduksi jadi paving block, bisa juga jadi batako,” kata Rahmat Sabtu (27/7) lalu.
Dalam pembuatan paving block, penggunaan semen diganti dengan plastik melalui proses pengovenan. Kemudian dilakukan penekanan dengan komposisi bahan 50 persen : 50 persen. “Kalau plastik 2 kg, ya pasirnya 2 kg juga,” ujarnya.
Menariknya, pasir putih yang digunakan berasal dari Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar). Dipilihnya pasir tersebut karena punya karakteristik tersendiri. “Pernah kami oven 200 derajat celcius, tekstur dan warna pasir tidak berubah,” ungkapnya.
Penelitian ini baru dijalankan sebulan lalu dan paving block yang dihasilkan diklaim lebih kuat ketimbang dari bahan semen. Telah dilakukan uji coba dengan memukul menggunakan palu ke paving block dan hasilnya mampu menahan tekanan hingga 20 MPa. “Kalau paving block biasa cuma 16 - 18 MPa. Tentu yang dari plastik ini lebih kuat,” terangnya.
Hasil penelitian ini mendapat perhatian Wakil Wali Kota (Wawali) Balikpapan, Rahmad Mas’ud. Diakuinya, temuan ini turut menjadi salah satu cara untuk mengurangi sampah plastik. Dirinya pun bakal membantu untuk mencarikan investor.
“Ini kan menarik, tentu harus didukung. Kalau mereka (mahasiswa, Red) siap produksi, ya kami membantu untuk mencarikan investor,” kata Rahmad.
Ia juga berharap agar uji coba produksi paving block dilakukan untuk tingkat RT sebagai percontohan. “Kalau sudah OK, baru dipasarkan ke lain,” tandasnya.
Penulis: */Hendra
Editor: M.Huldi