Saban bulan, penjualan jin tembus 30.000 potong, dengan
harga jual paling murah di kisaran Rp 300.000 per potong.
Sejatinya, sang pendiri, Gani Sandjaja, sudah merintis
bisnis garmen semenjak 1972 silam, tapi belum memproduksi jin. Lea Jeans baru
ada empat tahun kemudian.
Kini, dengan lebih dari 300 karyawan di bagian produksi,
seluruh pembuatan produk denim Lea Jeans berpusat di pabrik yang ada di daerah
Cimone, Tangerang.
Tapi sekarang, kendali bisnis Lea Jeans ada di generasi
kedua. Gani sudah menyerahkan tongkat komando ke anak bungsu dan lelaki
satu-satunya, Leo Sandjaja yang duduk di kursi direktur Lea Sanent. Kedua
kakaknya juga ikut membantu mengelola perusahaan.
“80% sudah diserahkan ke kami. Hanya, saya masih menyerahkan
produksi ke papa, karena, kan, beliau detail. Misalnya, mau pakai bahan mana,”
kata Leo yang bergabung dengan Lea Jeans pada 2004.
Meski begitu, awalnya Leo menolak keinginan sang ayah untuk
meneruskan bisnis Lea Jeans. Sedang menempuh studi strata dua (S2) di Amerika
Serikat (AS) jadi alasan pria kelahiran Jakarta, 16 Juni 1977, ini tak langsung
menerima permintaan ayahnya tersebut.
Cuma alasan sebenarnya, Leo mengungkapkan, semua bisnis
keluarga punya permasalahan yang sama yakni generasi pertama dengan kedua pasti
sering bentrok. Nah, “Ini hal yang ingin saya hindari,” ujarnya.
Mendapat penolakan, sang ayah pun mengancam akan
menghentikan pengiriman uang untuk biaya kuliah dan hidup Leo di negeri Uwak
Sam. Toh, dia tetap menolak permintaan ayahnya agar pulang ke Indonesia.
Untuk itu, ia pun mencari kerja ke perusahaan-perusahaan
sebagai karyawan berbekal ijazah S1. Tapi ternyata, tak mudah mencari lantaran
statusnya sebagai mahasiswa.
Tahu anak bontotnya mencari kerja tapi tidak dapat-dapat,
sang ayah pun mengontak Leo. “Papa bilang, di Indonesia, bisnis sudah ada,
kerja di Indonesia jauh lebih enak. Bagaimanapun juga kamu, kan, orang
Indonesia, lebih kenal karakter orang Indonesia,” ujar suami aktris Laura
Basuki ini.
Terobosan baru
Hati Leo pun luluh. Begitu kelar kuliah S2, ia langsung
pulang ke Indonesia dan membantu sang ayah di perusahaan sebagai sales manager.
Namun, hanya kurang lebih dua bulan. Maklum, dia tidak senang dengan dunia
penjualan.
Lalu, Leo dipindah ke bagian promosi dan komunikasi
pemasaran. “Sampai sekarang saya di bagian itu. Saya dari dulu memang suka
dengan desain, mengonsep promosi. Itu saya memang suka,” ucapnya.
Walau sudah mengenal lingkungan perusahan lantaran ketika
pulang ke tanah air sewaktu masih kuliah di AS sering ikut ayahnya ke pabrik,
bukan berarti kerjaan Leo di awal-awal baik-baik saja. Ritme kerja sang ayah
dan karyawan ternyata bertolak belakang dengan dirinya. “Itu membuat saya
hampir menyerah,” ungkapnya.
Tapi, kedua kakaknya terus menyemangati. Intinya mereka
mengatakan, kalau bukan kita siapa lagi yang meneruskan bisnis sang ayah. “Saya
merenungkan ucapan kakak saya. Betul juga apa yang mereka ucapkan. Dari situ
saya mulai mencoba untuk menjalani kembali. Tak terasa sekarang sudah 14
tahun,” tutur Leo.
Bahkan, dia mulai melakukan terobosan-terobosan di Lea
Jeans. Oh, iya, kata Lea sendiri diambil dari nama kakak pertamanya.
Terobosan pertama, memangkas biaya Lea Store yang merupakan
gerai mandiri alias stand alone. Gedung-gedungnya milik sendiri.
Bagi Leo, biaya Lea Store, yang mulai ada sejak 1998 dan
kini jumlahnya 30-an gerai yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia,
sangat besar. Bangunan Lea Store terdiri dari dua hingga empat lantai. Padahal,
yang terpakai hanya lantai dasar.
“Kenapa tidak disewakan saja, setidaknya bisa menutup biaya.
Jadi, mana gerai yang enggak menguntungkan, saya pindah ke bangunan satu lantai
dan sewa,” beber dia.
Terobosan kedua, melakukan rebranding Lea Jeans. Sebab,
logonya sudah usang.
“Masyarakat Indonesia, kan, sudah tahu logo Lea Jeans. Jadi,
kalau saya modernisasi sedikit, ya, tidak masalah. Itu saya berdebat panjang
lebar sama papa, berantem kami tentang logo,” sebut dia yang akhirnya bisa
meyakinkan sang ayah.
Kemudian terobosan ketiga, mengembangkan produk. Leo membawa
merek Lea Jeans mengarah ke modis. Sebab, penjualan yang perputarannya paling
cepat justru bukan jin, melainkan produk top dan aksesori, seperti kaos, topi,
serta bandana. Nah, ini yang tidak pernah ayahnya lakukan.
Cuma lagi-lagi, meyakinkan sang ayah bukan main susahnya.
Sebab, pola pikir generasi pertama sebagai founder adalah, dengan apa yang
sudah ada usaha tetap jalan. Sementara generasi kedua melihat ke depan.
“Jadi, untuk meyakinkan generasi pertama, saya rasa menjadi
problem terbesar dalam setiap bisnis keluarga. Kami sebagai anak harus berantem
dengan orangtua, itu, kan, tidak enak rasanya,” kata Leo.
Sekarang, Leo sedang mengevaluasi proses produksi. Ia
menjelaskan, proses produksi pabrik di Cimone selain menjahit juga ada mencuci.
Semua orang bisa menjahit, tapi tidak semua bisa mencuci.
Jadi, dia sedang melihat peluang, apakah akan lebih efektif
dan murah kalau proses mencuci dilempar ke pihak lain. Saat ini, Leo masih
melakukan simulasi, berapa biayanya termasuk untung ruginya.
“Ini papa juga belum tahu. Tapi saya pikir, buat saja dulu,
bikin simulasinya, data-datanya disiapkan. Kalau memang ternyata lebih murah,
akan saya persentasikan ke papa,” imbuhnya.
Relokasi pabrik
Bahkan, Leo berencana memindahkan pabrik di Cimone yang
sudah berdiri 35 tahun ke daerah lain. Dulu, ia menceritakan, kawasan Cimone
masih sepi. Sekarang, sudah ramai, di sekitar pabrik sudah berdiri pusat
belanja dan hotel.
Alhasil, secara lokasi sudah tidak cocok. Apalagi, Lea Jeans
satu-satunya pabrik yang ada di jalan besar di wilayah Cimone yang memiliki
izin industri.
Selain itu, biaya produksi terus meningkat dan terlalu mahal
dari segi upah buruh. Upah minimum regional (UMR) di Cimone sudah Rp 3 jutaan
per bulan. Dan tahun depan, naik lagi sebesar 8%. “Lumayan, kan, cost-nya,”
ujar Leo.
Karena itu, dia sedang mencari wilayah yang potensial dan
cocok untuk jadi lokasi pabrik. Sejauh ini ia baru survei ke Rembang, Jawa
Tengah, dengan UMR Rp 1,4 juta per bulan. Leo masih mencoba cari lokasi di
daerah lain.
Tapi memang, untuk industri garmen, enggak bisa memindahkan
pabrik begitu saja, harus pelan-pelan. Bangun dulu pabrik baru dan beroperasi,
baru yang lama ditutup. “Ini rencana besar ke depan, jangka panjang,”
tambahnya.
Untuk pemasaran, saat ini Leo masih mengandalkan kanal-kanal
tradisional. Selain Lea Store, ia bekerjasama dengan department store, seperti Matahari dan
Ramayana.
Lalu, menggandeng sekitar 15 toko grosir yang memiliki banyak
titik penjualan di berbagai daerah. “Ini membantu kami dalam hal investasi.
Jadi, enggak perlu buka toko sendiri,” kata dia.
Tentu, di tengah perkembangan dunia digital yang pesat, ia
berencana masuk ke saluran penjualan online. Selama ini, kalau ada produk Lea
Jeans di marketplace, yang menjual bukan dirinya. “Kami lagi mengembangkan
website sendiri, nanti pasti akan ada e-commerce-nya juga,” ujarnya.
Dan sampai saat ini, Leo belum mengekspor produk Lea Jeans.
Tapi, ada pembeli dari luar negeri, seperti asal Korea Selatan, Hong Kong,
Filipina, yang membeli dalam jumlah besar untuk dipasarkan di negara
masing-masing. “Kami belum tertarik jadi eksportir karena potensi pasar di
Indonesia masih besar,” tegas dia.
Hanya, ada dua tantangan besar untuk industri garmen di
negara kita. Pertama, tenaga kerja. Seiring kenaikan UMR, seharusnya
produktivitas meningkat. Tapi kenyataannya tidak begitu, produktivitas sama saat sebelum UMR naik
Kedua, dukungan pemerintah. Garmen sempat jadi industri
prioritas karena penyerapan tenaga kerja yang tinggi. Namun sekarang tidak
lagi.
Alhasil, produk kita kalah sama Vietnam dan China. “Kalau
bisa, ada dukungan regulasi yang stabil, jangan berubah-ubah, kasih kepastian
usaha,” harap Leo. (puc)