Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik Kementerian ESDM, Agung Pribadi mengatakan bahwa turunnya HBA pada tahun ini dipengaruhi oleh turunnya rata-rata indeks bulanan untuk Indonesian Coal Index (ICI) senilai 0,42%, Newcastle Export Index (NES) 5,14%, GCNC 4,10% dan index Platts yang turun senilai 1,25%.
Di samping itu, tidak semua perusahaan batubara jadi kurang prospektif di tahun depan. Menurut Arandi PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) masih bisa tumbuh di 2019.
“Pada dasarnya ITMG memasok batubara dengan jenis kalori tinggi sehingga tidak terpengaruh oleh harga batubara kalori rendah,” kata Arandi.
Ia menambahkan harga batubara kalori tinggi kemungkinan akan stabil di kisaran US$ 100 per metrik ton di 2019. Arandi merekomendasikan beli saham ITMG dengan target price (TP) Rp 32.000.
Harga Batubara Acuan (HBA) kembali melanjutkan tren penurunannya, dan menjadi yang terendah selama enam bulan terakhir. Pada bulan Desember, HBA dipatok sebesar US$ 92,51 per ton, atau turun 5,51% dibandingkan HBA bulan November yang ada di angka US$ 97,90 per ton.
Menurut Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerjasama Kementerian ESDM Agung Pribadi, penurunan HBA ini masih dikarena faktor yang sama. Yakni pengaruh dari pasar global, khususnya akibat pembatasan kuota impor batubara oleh pemerintah China, dan juga ditambah dengan lesunya permintaan dari pasar India, sehingga ada kelebihan pasokan batubara dari Indonesia.
Sebagai informasi, China dan India memang menjadi pasar dominan ekspor batubara Indonesia. Berkaca dari data per 31 Agustus 2018 lalu, ekspor batubara ke China mencapai 44,5 juta ton atau sekitar 31% dari total realisasi ekspor batubara Indonesia pada periode tersebut.Sementara di posisi kedua ada India dengan 29,23 juta ton, dan disusul Jepang dengan 16,73 juta ton.
Namun, Agung yakin, pada awal tahun depan, harga batubara akan kembali meninggi pada kisaran harga US$ 100 per ton. Hal itu bisa terjadi karena naiknya permintaan yang menyesuaikan dengan faktor musim dingin, serta otoritas China yang akan kembali membuka pelabuhan untuk impor batubara. “Tren kenaikan harga akan kembali terjadi karena faktor permintaan dan musim, serta saat impor dari China kembali dibuka,” kata Agung.
Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia, tren penurunan harga ini rentan menimbulkan ketidakpastian dalam menentukan proyeksi produksi dan penjualan perusahaan batubara di tahun depan. Hendra pun tak dapat memprediksi apakah pada awal tahun depan harga bisa kembali pada kisaran US$ 100 per ton atau tidak.
Namun, ia tetap berharap tren harga akan kembali bertengger pada kisaran itu. “Harapannya sih seperti itu, tapi apa dapat kembali kekisaran US$ 100 per ton ke atas, saya kurang tahu persisnya,” kata Hendra. (kc)
Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik Kementerian ESDM, Agung Pribadi mengatakan bahwa turunnya HBA pada tahun ini dipengaruhi oleh turunnya rata-rata indeks bulanan untuk Indonesian Coal Index (ICI) senilai 0,42%, Newcastle Export Index (NES) 5,14%, GCNC 4,10% dan index Platts yang turun senilai 1,25%.
Di samping itu, tidak semua perusahaan batubara jadi kurang prospektif di tahun depan. Menurut Arandi PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) masih bisa tumbuh di 2019.
“Pada dasarnya ITMG memasok batubara dengan jenis kalori tinggi sehingga tidak terpengaruh oleh harga batubara kalori rendah,” kata Arandi.
Ia menambahkan harga batubara kalori tinggi kemungkinan akan stabil di kisaran US$ 100 per metrik ton di 2019. Arandi merekomendasikan beli saham ITMG dengan target price (TP) Rp 32.000.
Harga Batubara Acuan (HBA) kembali melanjutkan tren penurunannya, dan menjadi yang terendah selama enam bulan terakhir. Pada bulan Desember, HBA dipatok sebesar US$ 92,51 per ton, atau turun 5,51% dibandingkan HBA bulan November yang ada di angka US$ 97,90 per ton.
Menurut Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerjasama Kementerian ESDM Agung Pribadi, penurunan HBA ini masih dikarena faktor yang sama. Yakni pengaruh dari pasar global, khususnya akibat pembatasan kuota impor batubara oleh pemerintah China, dan juga ditambah dengan lesunya permintaan dari pasar India, sehingga ada kelebihan pasokan batubara dari Indonesia.
Sebagai informasi, China dan India memang menjadi pasar dominan ekspor batubara Indonesia. Berkaca dari data per 31 Agustus 2018 lalu, ekspor batubara ke China mencapai 44,5 juta ton atau sekitar 31% dari total realisasi ekspor batubara Indonesia pada periode tersebut.Sementara di posisi kedua ada India dengan 29,23 juta ton, dan disusul Jepang dengan 16,73 juta ton.
Namun, Agung yakin, pada awal tahun depan, harga batubara akan kembali meninggi pada kisaran harga US$ 100 per ton. Hal itu bisa terjadi karena naiknya permintaan yang menyesuaikan dengan faktor musim dingin, serta otoritas China yang akan kembali membuka pelabuhan untuk impor batubara. “Tren kenaikan harga akan kembali terjadi karena faktor permintaan dan musim, serta saat impor dari China kembali dibuka,” kata Agung.