“Ada beberapa kendala yang dihadapi mulai dari perangkat atau teknologi hingga pemasaran. Meski rata-rata pelaku usaha kecil dan mikro sudah ada yang memasarkan produknya melalui aplikasi,” kata Eddi (19/12).
Sehingga dalam pelatihan, pihaknya menginginkan pelaku usaha dibekali peralatan agar bisa langsung mempraktikan keterampilan pembuatan produk dan pemasarannya. “Kalau modal, sebenarnya sudah banyak seperti dana Kelompok Usaha Bersama (Kube),” ucapnya.
Sedangkan masalah di pemasaran, Eddi menyebut keberadaan Bandara APT Pranoto di Samarinda mengurangi pembeli. Sehingga pelaku usaha dituntut memiliki daya saing secara kompetitif.
“Paling tidak, ya mengacu ke teknologi. Pasarkan produk-produknya melalui aplikasi. Apalagi rata-rata pelaku usaha sudah punya aplikasi sendiri,” sebutnya.
Dalam mendorong usaha kecil ke mikro, Pemkot Balikpapan juga menyasar kelompok ibu-ibu rumah tangga yang tidak memiliki aktivitas atau tidak bekerja. “Makanya, ibu-ibu yang menganggur diberdayakan,” ujarnya.
Untuk diketahui, ada sekitar 800 UMKM yang telah bersertifikat seperti halal dan paten serta memiliki Izin Usaha Industri (IUI) maupun Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK). Termasuk pernah dibina untuk Standar Nasional Indonesia atau SNI.
“Kalau yang formal ya jumlahnya 800 UMKM. Sisanya informal dan itu masih banyak yang belum berizin dan bersertifikat mulai sertifikat halal sampai paten,” tutup Eddi. (hn)
“Ada beberapa kendala yang dihadapi mulai dari perangkat atau teknologi hingga pemasaran. Meski rata-rata pelaku usaha kecil dan mikro sudah ada yang memasarkan produknya melalui aplikasi,” kata Eddi (19/12).
Sehingga dalam pelatihan, pihaknya menginginkan pelaku usaha dibekali peralatan agar bisa langsung mempraktikan keterampilan pembuatan produk dan pemasarannya. “Kalau modal, sebenarnya sudah banyak seperti dana Kelompok Usaha Bersama (Kube),” ucapnya.
Sedangkan masalah di pemasaran, Eddi menyebut keberadaan Bandara APT Pranoto di Samarinda mengurangi pembeli. Sehingga pelaku usaha dituntut memiliki daya saing secara kompetitif.
“Paling tidak, ya mengacu ke teknologi. Pasarkan produk-produknya melalui aplikasi. Apalagi rata-rata pelaku usaha sudah punya aplikasi sendiri,” sebutnya.
Dalam mendorong usaha kecil ke mikro, Pemkot Balikpapan juga menyasar kelompok ibu-ibu rumah tangga yang tidak memiliki aktivitas atau tidak bekerja. “Makanya, ibu-ibu yang menganggur diberdayakan,” ujarnya.
Untuk diketahui, ada sekitar 800 UMKM yang telah bersertifikat seperti halal dan paten serta memiliki Izin Usaha Industri (IUI) maupun Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK). Termasuk pernah dibina untuk Standar Nasional Indonesia atau SNI.
“Kalau yang formal ya jumlahnya 800 UMKM. Sisanya informal dan itu masih banyak yang belum berizin dan bersertifikat mulai sertifikat halal sampai paten,” tutup Eddi. (hn)