Namun, kini limbah kayu lapis bisa disulap jadi lukisan
bernilai hingga belasan juta rupiah. "Sebenarnya bisnis kami ini yang
utama itu importir vinir. Lalu kami lihat sampah vinir banyak sekali menumpuk
dan berpikir bisa jadi apa selain dibuang," ungkap Ari Wibowo, Marketing
Madero Veneer asal Semarang, Jawa Tengah.
Madero Veneer sendiri bergerak di bisnis furnitur dan impor
kayu lapis. Ari menjelaskan, mulanya potongan-potongan vinir atau kayu pelapis
tipis pun mulai coba dibuat lukisan. Gaya lukisannya pun menggunakan teknik
WPAP atau Wedha's Pop Art dengan gradasi warna alami aneka jenis kayu.
"Setiap kami buat mebel pakai vinir kan pasti ada
lebihnya. Nah, lebihannya ini dipakai untuk bahan baku lukisan. Pakai teknik
gradasi warna alami dari kayu asli atau kayu solid. Kami ada satu pelukis yang
bisa buat. Mungkin satu-satunya juga," kata Ari.
Ia mengatakan, lukisan yang dibuat Madaro Veneer kebanyakan
mengambil obyek para tokoh dunia atau sketsa wajah. Mulai dari lukisan Mahatma
Gandhi, Mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel hingga Presiden Jokowi pun
pernah dibuat. Aneka lukisan dari limbah kayu lapis ini dibanderol antara Rp 15
juta hingga Rp 25 juta, tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya.
"Hanya dengan modal seni dan ide dari para pelukis itu,
bisa jadi produk minimal harganya Rp 15 juta. Lukisan wajah Presiden Jokowi
pernah dilihat langsung waktu pameran di Jakarta sekitar tahun 2014 lalu. Dua
hari kemudian ada yang beli, harganya waktu itu Rp 18 juta," ungkap Ari.
Menurutnya, Madaro selalu mendapat pesanan lukisan wajah
setiap bulannya. Pesanan bakal meningkat jika mengikuti pameran. Setiap satu
lukisan, lama pengerjaannya sekitar sebulan.
"Setiap bulan minimal ada satu atau dua pesanan yang
masuk. Kalau habis ikut pameran biasanya lumayan ramai, bisa 3-5 pesanan
lukisan. Karena waktu pengerjaannya lama dan pelukis terbatas, kami tidak bisa
terima pesanan terlalu banyak," jelas Ari.
Ia mengatakan, pembeli manca negara juga banyak yang mencari
lukisan limbah vinir milik Madaro. "Pernah ada orang Sri Lanka, India,
mereka minta dibuatkan lukisan wajah mereka sendiri," tandasnya. (cnbci)
Namun, kini limbah kayu lapis bisa disulap jadi lukisan
bernilai hingga belasan juta rupiah. "Sebenarnya bisnis kami ini yang
utama itu importir vinir. Lalu kami lihat sampah vinir banyak sekali menumpuk
dan berpikir bisa jadi apa selain dibuang," ungkap Ari Wibowo, Marketing
Madero Veneer asal Semarang, Jawa Tengah.
Madero Veneer sendiri bergerak di bisnis furnitur dan impor
kayu lapis. Ari menjelaskan, mulanya potongan-potongan vinir atau kayu pelapis
tipis pun mulai coba dibuat lukisan. Gaya lukisannya pun menggunakan teknik
WPAP atau Wedha's Pop Art dengan gradasi warna alami aneka jenis kayu.
"Setiap kami buat mebel pakai vinir kan pasti ada
lebihnya. Nah, lebihannya ini dipakai untuk bahan baku lukisan. Pakai teknik
gradasi warna alami dari kayu asli atau kayu solid. Kami ada satu pelukis yang
bisa buat. Mungkin satu-satunya juga," kata Ari.
Ia mengatakan, lukisan yang dibuat Madaro Veneer kebanyakan
mengambil obyek para tokoh dunia atau sketsa wajah. Mulai dari lukisan Mahatma
Gandhi, Mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel hingga Presiden Jokowi pun
pernah dibuat. Aneka lukisan dari limbah kayu lapis ini dibanderol antara Rp 15
juta hingga Rp 25 juta, tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya.
"Hanya dengan modal seni dan ide dari para pelukis itu,
bisa jadi produk minimal harganya Rp 15 juta. Lukisan wajah Presiden Jokowi
pernah dilihat langsung waktu pameran di Jakarta sekitar tahun 2014 lalu. Dua
hari kemudian ada yang beli, harganya waktu itu Rp 18 juta," ungkap Ari.
Menurutnya, Madaro selalu mendapat pesanan lukisan wajah
setiap bulannya. Pesanan bakal meningkat jika mengikuti pameran. Setiap satu
lukisan, lama pengerjaannya sekitar sebulan.
"Setiap bulan minimal ada satu atau dua pesanan yang
masuk. Kalau habis ikut pameran biasanya lumayan ramai, bisa 3-5 pesanan
lukisan. Karena waktu pengerjaannya lama dan pelukis terbatas, kami tidak bisa
terima pesanan terlalu banyak," jelas Ari.
Ia mengatakan, pembeli manca negara juga banyak yang mencari
lukisan limbah vinir milik Madaro. "Pernah ada orang Sri Lanka, India,
mereka minta dibuatkan lukisan wajah mereka sendiri," tandasnya. (cnbci)