Inflow uang logam yang terlalu kecil, sudah kerap terjadi setiap tahun. “Ini terjadi karena orang hanya menaruh uang logam di rumah. Harusnya uang logam itu ditransaksikan atau kembalikan ke bank,” ujarnya.
Ia mengatakan, walau nilainya kecil, ongkos untuk uang pecahan logam lebih mahal dari pecahan kertas. Bisa mencapai Rp 3 triliun per tahun yang digunakan untuk mencetak, mengedarkan, dan menghancurkan.
Sebagai pembanding, biaya operasional untuk uang logam dengan uang pecahan Rp 100 ribu sama. Bahkan uang logam lebih mahal pembuatannya. Sehingga, jika masyarakat tidak menimbun uang logam tentunya akan menguntungkan dari sisi ekonomi. Karena, mengurangi biaya operasional percetakan uang logam. “Sebenarnya sudah dilakukan berbagai cara agar masyarakat di Kaltim tidak menimbun uang logamnya dan mulai memakainya untuk berbelanja,” tukasnya.
Salah satunya, lanjut dia, agenda penukaran uang logam diselenggarakan untuk mengembalikan uang logam yang berada di tangan masyarakat ke kas bank sentral. Bahkan agenda tersebut memberikan cenderamata berupa buku dan kaos ke masyarakat yang mau menukarkan uang logamnya. “Uang logam memang masih menjadi perhatian khusus kami. Hal itu dilakukan agar inflow uang logam bisa lebih meningkat,” tutupnya. (rs)
Inflow uang logam yang terlalu kecil, sudah kerap terjadi setiap tahun. “Ini terjadi karena orang hanya menaruh uang logam di rumah. Harusnya uang logam itu ditransaksikan atau kembalikan ke bank,” ujarnya.
Ia mengatakan, walau nilainya kecil, ongkos untuk uang pecahan logam lebih mahal dari pecahan kertas. Bisa mencapai Rp 3 triliun per tahun yang digunakan untuk mencetak, mengedarkan, dan menghancurkan.
Sebagai pembanding, biaya operasional untuk uang logam dengan uang pecahan Rp 100 ribu sama. Bahkan uang logam lebih mahal pembuatannya. Sehingga, jika masyarakat tidak menimbun uang logam tentunya akan menguntungkan dari sisi ekonomi. Karena, mengurangi biaya operasional percetakan uang logam. “Sebenarnya sudah dilakukan berbagai cara agar masyarakat di Kaltim tidak menimbun uang logamnya dan mulai memakainya untuk berbelanja,” tukasnya.
Salah satunya, lanjut dia, agenda penukaran uang logam diselenggarakan untuk mengembalikan uang logam yang berada di tangan masyarakat ke kas bank sentral. Bahkan agenda tersebut memberikan cenderamata berupa buku dan kaos ke masyarakat yang mau menukarkan uang logamnya. “Uang logam memang masih menjadi perhatian khusus kami. Hal itu dilakukan agar inflow uang logam bisa lebih meningkat,” tutupnya. (rs)