“Pada tahun 2024, produksi cabai dari 40 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang tersebar di 12 kecamatan telah dimulai sejak akhir Maret. Bahkan, sebagian kelompok sudah melakukan panen lebih awal, yang berdampak positif pada penurunan harga cabai di pasaran,” kata Kepala Disketapang Kukar Sutikno dikonfirmasi korankaltim.com, Jumat (14/3/2025).
Ia mengungkapkan Pemkab Kukar telah menyiapkan Rp2,6 miliar guna mendukung produksi cabai, dan panen saat ini terus berjalan. Bupati Kukar juga direncanakan menghadiri panen raya setelah Ramadan. Pada tahun 2025, anggaran untuk program ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai Rp5,8 miliar. Dana tersebut akan diberikan kepada 150 kelompok tani sebagai bagian dari program Indeks Pangan Mandiri (IPM).
"Program ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pokok, baik di tingkat produsen maupun konsumen, serta memperluas jangkauan dan meningkatkan daya beli masyarakat terhadap pangan strategis," ungkapnya.
Selain itu, kebijakan penting yang diterapkan pada tahun 2024 adalah pemanfaatan Dana Insentif Daerah (DID) sebesar Rp6 miliar. Mayoritas dana ini digunakan untuk pengembangan pertanian cabai berbasis teknologi, yang melibatkan 40 KWT. Panen massal direncanakan berlangsung menjelang Lebaran sebagai bagian dari upaya mengamankan pasokan cabai.
"Fokus utama pemerintah pada cabai bukan tanpa alasan. Berdasarkan analisis, harga cabai yang fluktuatif menjadi salah satu pemicu inflasi tahun lalu. Oleh karena itu, penanaman cabai secara serentak diharapkan dapat menstabilkan pasokan dan harga. Namun, panen harus dikelola dengan baik agar tidak terjadi secara bersamaan, yang dapat menyebabkan harga cabai anjlok akibat pasokan berlebih, lalu kembali melonjak setelah masa panen usai,” jelas Sutikno. (Adv)
Editor: Aspian Nur