Kepala BPBD Kukar, Setianto Aji mengatakan Januari hingga Februari masih diwarnai hujan yang cukup intens di berbagai wilayah. Namun, seperti yang telah diperkirakan, curah hujan mulai menurun secara bertahap. Pihaknya mengatakan BMKG akan rilis terbaru situasi cuaca yang akan dibagikan pada Kamis, mengingatkan bahwa daerah tertentu masih akan mengalami hujan, tetapi intensitasnya cenderung berkurang menjelang akhir Maret.
"Cuaca saat ini memang tidak selalu bisa diprediksi dengan mudah, tetapi pola umum yang kita lihat adalah peralihan ke musim panas ada di bulan April," jelasnya.
Dampak yang paling dikhawatirkan dari musim kemarau adalah berkurangnya ketersediaan air bersih. Ini menjadi tantangan besar terutama bagi desa-desa yang sudah terbiasa menghadapi musim kering yang panjang. "Contohnya seperti kekurangan air bersih adalah keluhan utama di daerah pedesaan, terutama yang sudah mengalami masalah serupa di tahun-tahun sebelumnya," ujarnya
Selain itu, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi perhatian utama. Beberapa desa yang memiliki riwayat karhutla di tahun-tahun sebelumnya harus mulai bersiap menghadapi risiko yang sama. "Tipikal desa yang mengalami karhutla adalah yang memiliki banyak lahan gambut atau wilayah yang memang rentan terhadap kebakaran saat kemarau tiba. Kami berharap ada langkah antisipasi sejak dini untuk mencegah kebakaran meluas," bebernya
Dengan ini masyarakat diharapkan lebih waspada dan bersiap menghadapi musim kemarau yang segera datang. Langkah pencegahan dini dapat membantu mengurangi dampak buruk, baik dari sisi ketersediaan air maupun ancaman kebakaran hutan dan lahan.
"Tetap siaga, karena kalau di Kalimantan cuaca itu tidak menentu berbeda polanya dengan kepulauan lain, dan kami juga rutin melakukan pemantauan dari anggota hingga relawan Kecamatan," pungkasnya. (Adv)
Editor: Aspian Nur