Diketahui bahwa, gedung ini merupakan bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar dan dibangun di lahan Eks Rumah Sakit lama AM Parikesit Tenggarong.
Pembangunan ini diharapkan mampu mempermudah pengelolaan sampah, mengingat selama ini Kelurahan Melayu membutuhkan wadah yang representatif dan daur ulang sampah dapat terjaga.
Kasi Pembangunan Kelurahan Melayu Taufik Anwar mengatakan, kondisi bank sampah harus berpindah-pindah karena hanya menggunakan tempat pinjaman. Hal ini membuat pengelolaan terkesan sulit dan tidak stabil dalam jangka panjang.
“Dengan adanya lokasi yang tetap, kami berharap bank sampah ini dapat memberikan solusi yang lebih konkret dan sustainable bagi pengelolaan sampah kota,” ujar Taufik.
Taufik menyebutkan dalam pengelolaan bank sampah sepenuhnya diserahkan kepada pihak kelurahan. Proses operasional yang terstruktur ini direncanakan agar bank sampah hanya buka seminggu sekali atau setiap hari Jumat. Dengan ini mereka membuka peluang kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi aktif.
Informasi dan pengumuman terkait operasional bank sampah disampaikan kepada para nasabah secara efisien menggunakan grup WhatsApp, sehingga komunikasi tetap terjaga meskipun terdapat kesibukan di antara masyarakat kota.
“Dari masyarakat sangatlah beragam dan ini terbuka luas, kita membuka secara luas terhadap sejumlah ASN yang ingin menabung sampah,” bebernya.
Hal ini menunjukkan kesadaran dan kepedulian berbagai lapisan masyarakat terhadap lingkungan semakin meningkat, serta dapat menjadi contoh partisipasi kolektif pada kegiatan sosial yang bermanfaat dengan menerapkan kebersihan lingkungan bebas dari sampah.
“Kami berharap bank sampah dapat beroperasi penuh dan optimal di akhir tahun ini, memberikan solusi efektif dalam pengelolaan sampah rumah tangga sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pentingnya keberadaan bank sampah tidak dapat dipandang sebelah mata. Inisiatif ini hadir sebagai solusi konkret dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Selain mengurangi dampak negatif dari sampah, ini juga meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
“Diharapkan pula dengan keberadaan bank sampah yang dikelola masyarakat setempat, komunikasi dan koordinasi dapat lebih mudah tercapai, sehingga keberhasilan program ini dapat terwujud secara berkelanjutan,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin