Kepala Desa Selerong, H Badrun mengatakan budaya serawenan ini adalah budaya asli kutai yang harus terus dilestarikan pelaksanaannya, untuk di Desa Selerong sudah menjadi kegiatan rutin tahunan yakni pada setiap pembukaan perayaan hari ulang tahun desa yang diperingati setiap 15 Oktober.
“Serawenan ini budaya kutai sebenarnya karena dimana-mana saja etam menyerawen, tapi belum pernah direalisasikan. Nah Selerong sudah merealisasikan itu, setiap ulang tahun selerong pasti ada serawenan,” kata Badrun kepada korankaltim.com, Kamis (30/5/2024).
Badrun menjelaskan budaya serawenan itu adalah kegiatan masyarakat bergotong royong mengolah makanan dan kemudian menyajikannya kepada seluruh masyarakat yang hadir. Kegiatan serawenan ini mendapatkan antusiasme tinggi dari masyarakat hingga bahkan desa-desa tetangga speerti Desa Sanggulan dan Desa Senoni juga turut serta.
“Bikin makanan kumpul bersama-sama makan dan tinggal pilih mau makan apa saja, serawenan atau nyerawen itukan meskipun tidak ada undangan kemudian ada makanan nyaman ya kita merapat kumpul ramai-ramai,” jelasnya.
Serawenan ini Badrun menegaskan merupakan acara selamatan atau wujud syukur atas segala rahmat nikmat yang diberikan Tuhan kepada desa, wujud dari rasa syukur itu dibuatlah kegiatan membuat makanan bersama dan berbagi makanan kepada siapapun.
“Boleh makan tinggal milih, makanannya bervariasi misal gence ruan jukut salai dan khas makanan kutai bermacam-macam, dilaksanakan pada hari pembukaan ulang tahun desa, yang hadir bupati camat dan warga lainnya,” tegasnya.
Untuk tahun 2024 ini perayaan ulang tahun Desa Selerong sudah memasuki usia 105 tahun. Budaya serawenan ini sudah dilakukan Pemdes Selerong sejak ulang tahun desa ke 97 tahun sampai sekarang.
“Dan tahun ini pasti ada lagi, penutupan rangkaian akhir ulang tahun itu kita laksanakan salat hadiah haul jamak untuk mendoakan para pendiri tokoh masyarakat desa yang sudah meninggal, dan ziarah ke makam tokoh masyarakat agama itu akhir dari rangkaian perayaan ulang tahun desa,” demikian Badrun. (Adv)
Editor: Aspian Nur