“Rangkaian peringatan hari Pahlawan dipusatkan di Kecamatan Muara Kaman, salah satunya karena di Muara Kaman itu ada pahlawan, yakni Muso Bin Salim sehingga kami sudah beberapa tahun melaksanakan,” kata Barliang kepada korankaltim.com, Jumat ( 20/10/2023).
Camat yang akrab disapan Bu Hajah Barliang ini menyebutkan ada beberapa rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu upacara peringatan hari Pahlawan di Lapangan Sepak Bola Desa Muara Kaman Ulu, kemudian ada beberapa perlombaan kearifan khas local Muara Kaman yakni balap perahu ketinting atau lomba ces, lomba memasak dari PKK dan kegiatan beseprah seperti yang rutin dilakukan pada setiap penyelenggaraan Pesta Adat Erau di Kabupaten.
"InsyaAllah kegiatannya kita laksanakan selama seminggu. Sedangkan anggaran masih dibahas bersama dengan Dinsos, tapi ada juga anggaran di kecamatan, kita siap berkolaborasi dengan Dinsos," sebutnya.
Maksud dan tujuan peringatan Hari Pahlawan ini adalah untuk mengenang dan menghormati perjuangan para pahlawan dan pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan, membangun ingatan kolektif untuk kemudian menggerakkan kesadaran masyarakat agar bersedia meneladani dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur pahlawan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga sebagai momentum memperkuat Persatuan dan kesatuan masyarakat terutama kerakatan masyarakat Muara Kaman yang memang dikenal sangat guyub dan rukun.
“Untuk rangkaian pelaksanaan ini kami sudah rapat dengan tim di Kecamatan, nanti akan ada rapat lagi di Kabupaten melalui Dinsos. Kesiapan kami, sudah ada pembentukan panitia dan sudah rapat berkali-kali,” tegasnya.
Untuk diketahui, bagi warga Kukar, nama Muso Bin Salim tentu tak asing. Panglima Gerilya Kalimantan ini dikenal warga Kutai sebagai pahlawan yang ‘terlupakan’ sampai kapanpun terlebih lagi bagi keluarga terdekat yang banyak berdomisili di Muara Kaman.
Selain pemerintah yang turut merayakan, perayaan kecil dari keluarga dan masyarakat Muara Kaman yang merupakan pusat kerajaan tertua Indonesia, di mana Sang Pahlawan dilahirkan kerap dilakukan.
“Kami mempersiapkan renungan suci, tabur bunga persiapan di makam maupun di kawasan tugu pahlawan,” kata Asminan Ramadhan, cucu Muso Bin Salim.
Minan mengisahkan, kakeknya menghakhiri karier dengan pangkat Letnan Dua (Letda). “Padahal beliau tak pernah mengenyam pendidikan militer. Pangkat itu diberikan atas perjuangan beliau mempertahankan kemerdekaan RI,” beber Minan.
Muso Bin Salim juga menerima penghargaan dari Menteri Pertahanan RI Sultan Hamengkubuono IX, yang diterimanya 2 Desember 1947. Kemudian penghargaan Pahlawan dari Presiden RI Soekarno pada 5 Juni 1960. Lalu ada Satya Lancana Perang Kemerdekaan 1 dan 2 dari Menteri Pertahanan RI, Ir Djuanda pada 5 Juni 1960.
“Jadi beliau ini Pahlawan Gerilya se-Kalimantan. Panglima perang bukan hanya se-Kaltim tapi se-Kalimantan. Jadi pelopor awalnya itu dari Kaltim, sehingga sampai ke Pulau Jawa itu,” terangnya. (adv)