
Festival ini berlangsung sejak 10 Juni lalu yang dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan perekonomian kerakyatan dan sebagai wujud pelestarian adat istiadat budaya khas Kuta.
Acara diisi dengan kegiatan opening ekspo, bazar UMKM, lomba begasing, lomba karaoke, lomba akustik, lomba bemamai, lomba memancing, lomba perahu ketinting lokal, lomba islami, lomba kuliner, lomba gapura RT, ngopi bareng bekesahan, lomba ketinting open, gowes, zumba dan panggung hiburan dirangkai acara penutupan menampilkan musik dangdut dan DJ perform yang dihadiri ratusan masyarakat malam tadi.
"Alhamdulillah semua berjalan lancar dan baik hasil kerjasama seluruh panitia pelaksana serta seluruh masyarakat Desa Benua Puhun khususnya, kami bangga dan berterimakasih kepada semua pihak yang terlibat," kata Kepala Desa Benua Puhun Ardinansyah kepada Korankaltim.com, Senin (19/6/2023) pagi tadi.
Haji Nan, sapaan akrab Ardinansyah, mengaku sangat bangga ekspo yang digagas pemerintah desa selama 9 hari ini berlangsung meriah serta animo masyarakat yang datang ke Desa Benua Puhun sangat membludak.
"Masyarakat ribuan orang dan jadi peserta saat lomba memancing, Untuk lomba ketinting ribuan masyarakat menonton di sepanjang pinggiran bantaran sungai. Masyarakat di Desa Benua Puhun yang berjualan UMKM sampai kehabisan dagangannya, kata urang Kutai, dah hais gala (sudah habis semua) dibeli, tentu ini sangat luar biasa," sebut Haji Nan.
Atas desakan warga dan bukti suksesnya penyelenggaraan festival adat dan modern ini, Haji Nan berharap pemerintah kabupaten bisa memasukkan kegiatan ini ke dalam kalender event Dinas Pariwisata sehingga menjadi agenda tahunan.
"Saya juga heran sangat membludak sekali masyarakat yang datang mulai dari desa tetangga sampai yang jauh-jauh hingga dari Malinau, Tenggarong, Samarinda juga hadir kesini. Berarti kegiatan ini harus dilaksanakan agar mengangkat UMKM yang ada di desa kami," paparnya.
Haji Nan yang juga Ketua Askab PSSI Kukar ini tidak lupa mengajak semua pihak untuk memperhatikan situs sejarah bangsa yang ada di Kecamatan Muara Kaman. Dirinya berharap situs yang ada, dimana dulu ada Raja Mulawarman, sehingga diharapkan pemkab juga pemerintah pusat bisa mengangkat sejarah yang ada di Muara Kaman dari kegiatan adat agar cerita daerah tidak tertinggal.
"Ini warisan sejarah adat budaya yang harus terus dilestarikan karena kerajaan tertua ada di Muara Kaman. Bayangkan ada Kodam Mulawarman, ada Universitas Mulawarman dengan nama Mulawarman kerajaannya itu ada di Kecamatan Muara Kaman. Kami ingin mengangkat sejarah yang ada di Muara Kaman dan bisa dibuatkan wisata yang bisa terkenal di Indonesia se-nusantara," tegasnya.
"Kami juga berharap media agar bisa terus menyuarakan, menggaungkan, kegiatan adat dan modern di desa Benua Puhun biar bisa dikenal, dibantu melalui dinas-dinas terkait," ucapnya. (adv)