Kepala Desa (Kades) Sabintulung, Arta mengatakan, keberlangsungan Erau Adat Benua Tuha ini senantiasa terjaga berkat peran pendahulu yang diberi amanah oleh masyarakat desa sebagai petinggi kampong dengan sebutan gelar 'Singa Tuha'.
"Dalam perjalanannya hingga sekarang, Singa Tuha itu sudah banyak yang meninggal, maka keturunan Singa Tuha itulah yang akhirnya diangkat gelar menjadi Singa Muda. Termasuk saya ini," katanya kepada korankaltim.com, Rabu (10/6/2023).
Arta menjelaskan, zaman Erau dulu Singa Tuha ini juga disebut sebagai petinggi sekaligus juga dia selaku pemangku adat kepala desa. "Jadi itu dari kakek boyok saya, kakek saya, bapak saya yang menjabat ya keturunan Singa Tuha hingga Singa Muda termasuk saya ini,” ungkapnya.
Arta menjelaskan, meskipun dilaksanakan sama dengan Erau yang ada di Tenggarong yakni selama 7 hari, untuk Erau Adat Benua Tuha Desa Sabintulung ini pada akhir acara penutupan tidak dilaksanakan adanya prosesi berlimbur.
Selama 7 hari sejak pembukaan hingga penutupan kegiatan sakral prosesi adat istiadat dan setiap harinya berbeda-beda acara yang dilaksanakan. "Prosesi ini kami menyebutnya adat Belian, itulah acara sakralnya, kami tidak ada berlimbur karena memang tidak ada prosesi itu di Erau Adat Benua Tuha Desa Sabintulung. Kita juga berkoordinasi selalu dengan pihak kesultanan Kutai yang di Tenggarong, sebelum Erau Tenggarong memang Erau Sabintulung dulu yang dilaksanakan, dan itu rutin setiap tahun di bulan Juli. Tahun ini 15-22 Juli 2023," demikian Arta. (Adv)
Editor: Maruly Zainuddin