Untuk itu, rapat koordinasi dan evaluasi terus dilaksanakan untuk mengetahui apa saja yang menjadi atensi atau perhatian untuk bisa dibenahi.
"Ada beberapa yang menjadi atensi untuk bisa dibenahi dan dilengkapi. Saya inginkan adalah bagaimana kemanfaatannya dapat dimaksimalkan," kata Edi.
Seperti halnya Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
Program ini hampir rampung di 2021 dan 2022 tapi memang belum memenuhi kebutuhan yang ada di desa. Sehingga masih ada yang perlu dilanjutkan pekerjaannya agar selesai secara utuh.
"Tahun 2022 lalu tidak dianggarkan lanjutan pekerjaannya. Jangan sampai di tahun 2023-2024 tidak selesai program kegiatan ini," tegas Edi.
Kemudian terkait program Terang Kampongku, program ini ditujukan kepada daerah remote area (daerah terpencil) atau wilayah yang tidak terjangkau dari jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Sehingga salah satu solusinya adalah dibangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). "Ini sudah berhasil dibeberapa desa, seperti Desa Muara Enggelam. Inginnya kita, ini bisa diaplikasikan di desa lainnya yang termasuk dalam remote area," tambahnya.
Disamping kedua program tersebut akan dilakukan rekonsiliasi (pencocokan) data antara Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) dan Pekerjaan Umum (PU) Kukar. Rekonsiliasi data ini terkait dengan jalan lingkungan yang masih saling lempar kewenangan.
"Kalau seperti ini terus, tidak akan pernah selesai. Tidak ada action langsung di lapangan. Ini yang dalam waktu dekat akan dibenahi," pungkas Edi. (Adv)
Editor: Aspian Nur