"Kami ingatkan ini karena ada beberapa pondok pesantren tutup hanya persoalan antara yayasan dengan pengelolanya, rebutan aset nya, sangat disayangkan kalau itu terjadi kan itu udah lama dibangun" kata Edi saat dikonfirmasi korankaltim.com, Kamis (6/4/2023).
Ketika ditanya berapa jumlah pasti lembaga atau yayasan pendidikan yang ditutup atau dibubarkan karena persoalan aset, Edi mengungkapkan tidak tahu pasti, data ini didapatkan sesuai dari laporan yang disampaikan langsung Kementerian Agama (Kemenag) Kantor Wilayah Kukar kepada pihaknya.
"Ada beberapa sih yang seperti ini (ditutup, red) menurut laporan dari kepala kementerian agama itu, ya saya tetap menyarankan tetap difasilitasi dengan baik, supaya kelembagaannya bisa berfungsi dan berdiri kembali, karena kita perlu mitra" ungkapnya.
Edi menegaskan pentingnya keberadaan mitra kerja pemerintah khususnya dari sektor pendidikan, karena pemerintah kabupaten tidak bisa bekerja sendiri.
"Misalkan salah satu misi kita pembangunan sumber daya manusia berakhlak mulia unggul berbudaya itu kan salah satunya pendidikan keagamaan itu, jadi kita perlu mitra kerja ya dengan banyaknya keberadaan yayasan pendidikan makanya saya sedih kalau dibubarkan karena persoalan internal yayasan dan kepengurusannya" tutup Edi. (Adv)
Editor: Aspian Nur