“RPB yang ada di wilayah Kutai Kartanegara kita harapkan UMKM ini nantinya bagaimana hasil olahan dari produksi itu bisa dikembangkan betul usaha-usaha yang sesuai dengan bahan baku biofarmaka baik itu jahe atau bubuk jahe, karena pabrik itu (RPB, red) nantinya selain mengolah menjadi esensial oil, juga bubuk powder jahe juga,” kata Kepala Diskop UKM H Tajudin kepada korankaltim.com, Senin (31/10/2022).
Untuk menunjang upaya bersama mengembangkan komoditas biofarmaka di Kukar yang telah ditetapkan oleh Kemenkop UKM sebagai kawasan strategis, Diskop UKM Kukar berharap tidak hanya kecamatan terdekat dari letak RPB saja yang bisa terlibat, tapi seluruh kecamatan se-Kukar diharapkan terlibat dalam pemenuhan kebutuhan pasokan bahan baku, dalam hal ini bahan baku jahe.
“Tadi selanjutnya hasil produksi nanti kalau esensialnya sudah banyak peminatnya di samping untuk dikirim ke luar pulau juga diharapkan yang powder bubuk tadi juga menjadi olahan minuman masyarakat, misal jadi wedang atau menjadi makanan-makanan yang mengandung jahe itu yang kita harapkan dari UMKM ini, kalau dari hasil FGD kemarin jika RPB nanti sudah jalan maka kebutuhan jahe perhari untuk diolah itu bisa mencapai 4 ton,” ungkapnya.
Oleh karena itu sangat diharapkan keterlibatan seluruh kecamatan untuk persediaan bahan baku jahe ini. Tajudin menegaskan untuk pengembangan komoditi jahe, sebenarnya kalau dilihat dari teritorial Kukar ini sangat potensial.
“Potensi untuk jahe, karena jahe ini tidak begitu cerewet dan lahan kita luas, cuman belum dimaksimalkan saja, jadi harus terintegrasi di seluruh kecamatan lain karena pemasoknya diharapkan jangan hanya Loa Kulu, Tenggarong dan Tenggarong Seberang saja, tapi kecamatan lainnya silahkan saja terlibat,” tegas Tajudin.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Supiansyah