Hal ini kemudian disiasati dengan pemenuhan mekanisasi dan teknologi pertanian untuk menarik masyarakat usia produktif memilih menjadi petani sebagai profesi yang tak kalah trendi dengan profesi lainnya, tidak lagi identik dengan profesi yang dijalani dengan basah-basahan atau berkutat dengan lumpur.
Catatan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara, tahun 2020 ada sekitar 35.683 petani dan mengalami peningkatan menjadi 50.998 petani di tahun 2021 dan tahun 2022 mencapai 55.097 orang.
Sub Koordinator Usaha dan Penyuluhan Distanak Kukar Wahid kepada Korankaltim.com Jumat (3/6/2022) hari ini mengatakan, rata-rata usia produktif petani mulai dari 19-39 tahun.
Dalam dua tahun terakhir terlihat adanya peningkatan jumlah petani dikarenakan Pemkab Kukar fokus menggaet pemuda untuk bertani. “Di sini juga sudah ada penggagas petani milenial,” ujar Wahid.
Menariknya, gelombang PHK selama Covid-19 dalam dua tahun terakhir disebut-sebut sebagai penyebab meningkatnya jumlah petani di Kukar. Selain itu, tiga program strategis pertanian yaitu lima kawasan terpadu, food estate dan revolusi jagung juga menjadi andil. Namun upgrade teknologi pertanian yang disebut memiliki andil besar.
Menurut Wahid, sudah ada 2.901 kelompok tani di Kukar yang memiliki Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan). Pemkab Kukar juga telah memberikan sejumlah alsintan seperti pemanen padi, rice transplanter dan cultivator yang menjadikan bercocok tanam menjadi lebih mudah dan menyenangkan.
Seorang akademisi yang tergabung dalam Gugus Tugas Kukar Idaman Mohamad Fadli mengatakan, transformasi teknologi menjadi bagian penting menarik minat kelompok usia produktif terjun ke ladang pertanian.
"Selama ini mungkin pertanian itu sistemnya konvensional, mencangkul dan pakai traktor biasa. Harapan ke depan bisa menggunakan teknologi-teknologi pertanian yang saat ini lebih dikenal dengan 4.0,” terang Fadli.
Menurut informasi, Distanak Kukar bakal melakukan pengadaan Drone Sprayer untuk lima kawasan pertanian yang sudah ditetapkan Pemkab Kukar yang berfungsi untuk menyemprotkan cairan pembasmi hama sebagai gaya baru dalam upaya pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Tak hanya itu, penggunaan teknologi ini menjadikan pekerjaan petani jauh lebih optimal, efektif dan efisien.
"Kalau petani masih menggunakan alat semprot manual, itu sudah pasti terbatas. Walaupun 300 hektare pasti membutuhkan sekian banyak tenaga kerja. Tapi dengan adanya drone diefektifkan bisa mengcover sampai 300 ha sehari,” ucap Fadli. (Adv)
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Aspian Nur