Peneliti Ahli Madya Bidang Kebijakan Publik Balitbangda Kukar M Soleh Pulungan kepada Korankaltim.com menjelaskan, dari sumber yang didapatkannya menyebutkan, terpusatnya pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara di wilayah Pemarangan berjalan selama 143 tahun.
Dalam rentang waktu itu, ada tujuh raja yang silih berganti memimpin kerajaan dengan periode kepemimpinan yang berbeda-beda, satu diantaranya Sultan Aji Muhammad Idris yang kini mendapat gelar pahlawan nasional.
"Hanya saja versinya masih ada beberapa macam, kami belum bisa menyimpulkan. Balai Arkeologi juga sudah beberapa kali melakukan kunjungan ke sana, kita juga demikian, tapi belum ada satupun buku yang kita hasilkan terkait ini," kata Soleh Rabu (23/3/2022) hari ini.
Konon pada masa terpusatnya pemerintahan di Pemarangan ini terjadi beberapa peristiwa besar, mulai dari penyerangan terhadap kerajaan Martadipura di Muara Kaman pada abad ke-16, peperangan antara Aji Muhammad Idris dan Sultan Wajo melawan Belanda yang menyebabkan wafatnya Aji Muhammad Idris, hingga perebutan kekuasaan antara Aji Kedo yang menobatkan diri sebagai Sultan penerus Aji Muhammad Idris dengan Pangeran Aji Imbut yang merupakan putra mahkota.
"Dua tahun berselang (1778-1780 Masehi), ia (Aji Imbut) merebut kembali tahta yang menjadi haknya dengan bantuan para pengikut ayahnya dan orang Bugis dari kesultanan Wajo," Soleh menceritakan.
Makam Aji Sinum Panji Mendapa menjadi bukti paling kuat terkait keberadaan Kerajaan Kutai Kartanegara di Pemarangan.
Tertulis di batu nisan makam tersebut, Aji Sinum Panji Mendapa wafat pada tahun 1243 Hijriyah.
Situs makam Ibu Ratu atau ibunda dari Aji Sinum Panji Mendapa juga makam-makam tokoh lain juga ditemukan di sana. Situs ini dapat didatangi dengan menempuh perjalanan sejauh empat kilometer dengan akses jalan beton hingga jalan setapak.
"Selain makam tadi, masih ada ditemukan tiang-tiang semacam pura atau kedatonnya. Tapi posisinya di rawa-rawa itu. Kalau mau menggali info lebih dalam ada penjaga makamnya di situ," sebutnya.
Balitbangda masih mencari orang-orang yang memiliki keterkaitan dengan situs di Jembayan itu. Jika sudah mendapatkan referensi dan data yang cukup, mereka akan membukukan hasil penelitian ini.
Riset ini juga sebagai persiapan menghadapi IKN, bisa saja situs ini nantinya menjadi objek wisata sejarah yang dapat memutar roda perekonomian warga setempat. Selain itu, ini dapat menjadi dokumentasi sejarah yang diperuntukan bagi dunia akademik dan berbagai hal lainnya.
"Kalau seandainya kami selesaikan kajian, bukunya nanti untuk akademis bisa, wisata bisa," pungkas Soleh. (Adv)
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Aspian Nur