Penanggungjawab Kukar Pintar Dr Emy Rosana,
mengatakan kegiatan lomba menulis ini sebagai gerakan untuk meningkatkan
Budaya Literasi pelajar Khususnya Pendidikan di Kabupaten Kukar. Lomba
di selenggarakan secara dua tahap, dengan tahap pertama secara daring
babak penyisihan dan tahap kedua diselenggarakan secara luring yaitu
babak final.
Salah seorang uru pendamping dari SMPIT Al Ihsan
Muara Kaman , Normasari mengatakan kegiatan ini sangat luar biasa dan
harus dikembangkan tidak hanya di tingkat kabupaten tetapi menghidupkan
literasi di tingkat sekolah.
"Di sekolah kami biasanya hanya
mengadakan lomba saat peringatan Agustus saja, dan itu hanya beberpa
anak saja yang berminat mengikuti lomba menulis, maka dengan kegiatan
ini ada beberapa anak yang potensial dan mereka bersemangat," katanya
kepada Korankaltim.com Selasa (16/11/2021).
Menurutnya
kegiatan lomba menulis ini adalah suatu wadah kebanggaan Benua Etam
khususnya di Kukar dalam mencerdaskan anak-anak, memotivasi mereka dalam
berkarya, serta mengembangkan bakat dan minat bagi pelajar Kukar di
bidang menulis.
Dari 61 peserta yang mengikuti lomba ini
hanya 10 Peserta yang diambil karya terbaik untuk mengikuti babak Final
secara luring yaitu SMPIT Al Ihsan Muara Kaman, SMPN 7 Muara Badak, SMPN
1 Marang Kayu, SMPN 2 Muara Jawa, SMPN 3 Sebulu, SMPN 4 Kota Bangun,
SMPIT Insan Cendikia Boarding School, SMPN 6 Anggana dan SMPN 4 Muara
Wis. Di juarai oleh SMPN 1 Marang Kayu yang pertama, SMPN 2 Muara Badak
yang kedua dan SMPIT Al Ihsan Muara Kaman Juara ketiga.
"Saat
perlombaan berlangsung para peserta bisa santai dan senang, karena
para peserta dipandu oleh Kak Viola sebagai moderator yang bisa
mencairkan suasana, tidak kaku dan peserta diajak kak Viola untuk
berkenalan dengan peserta lain, sehingga mereka menganggap bukan
pesaing, tetapi sebagai teman belajar bersama saat perlombaan, selain
itu kak viola mengajak beberapa peserta untuk menceritakan kembali
ceritanya dan ternyata sangat menginspirasi teman-teman lainnya," ungkap
Emy Rosana.
"Karena tema-nya suka duka belajar masa Pandemi,
jadi banyak sekali cerita mereka saat belajar di masa pandemi yang akan
jadi memori luar biasa ketika mereka dewasa yang melalui masa pandemi
yang tak mudah," timpalnya.
Sementara itu salah seorang juri
lomba Shanti Agustina yang merupakan seorang penulis kebanggaan Benua
Etam menyampaikan bahwa tidak mudah untuk memilih 10 karya dalam babak
Final dengan 61 Karya yang dikirim semuanya karena memiliki cerita yang
luar biasa. Tentu para juri harus memilih sesuai dengan ketentuan dalam
lomba.
Ia juga menyampaikan bahwa 10 peserta yang memasuki
babak final sudah menjadi juara karena mampu lolos dari 51 Peserta .
"Juri menilai secara objektif dan saat memilih naskah tersebut di
tulisan yang dikirim ada yang tidak mencantumkan asal sekolah, sehingga
juri tidak menduga bahwa sekolah yang lolos adalah dari sekolah yang
jauh dari kota," terang Shanti.
Shanti juga menuliskan dalam
salah satu akun media sosialnya "terharu akan semangat para pelajar di
pelosok Negeri" tulisnya pada, Minggu (14/11/2021). (Adv)
Penulis : Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan