Dalam upaya intervensi program pengentasan kemiskinan, sesuai arahan Bupati Edi Damansyah ingin difokuskan implementasi penanganannya di dua kecamatan percontohan yakni Muara Kaman dan Samboja.
“Untuk sementara memang Pak Bupati maunya ingin melakukan evaluasi sehingga difokuskan di dua kecamatan itu. Apakah kemudian memang tepat atau tidak intervensi-intervensi yang kita lakukan itu, jika memang tidak tepat nanti jadi dievaluasi,” ungkapnya.
“Namun ini bukan berarti di daerah lain tidak diurus, Cuma memang fokusnya sementara ini di dua tempat itu untuk bahan semacam pilot project,” imbuh Wiyono.
Mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ini menjelaskan, upaya saat ini sembari untuk mempersiapkan anggaran tahun 2022 dalam hal pengoptimalan program pengentasan kemiskinan.
“Jadi anggaran di tahun depan itu jangan ada lagi yang tidak tepat sasaran, jadi difokuskan lah di dua kecamatan itu cara-cara apa yang dipakai dan pendekatannya seperti apa, intervensinya seperti apa dan kita evaluasi proses implementasi yang sebelumnya itu sejauh mana dan kemudian dicoba lagi ini dengan disinkronkan lagi bersama seluruh perangkat daerah yang tentunya semuanya bekerja dengan berbasis data,” jelasnya.
Dalam penanganan kemiskinan, tentu Kukar dibenturkan dengan indikator yang menjadi kriteria masuk tidaknya sebuah kepala keluarga ke dalam kategori pra sejahtera atau tidak. Hal ini menyikapi budaya kehidupan sosial masyarakat di kawasan hulu Mahakam.
“Terkait masalah indikator kemiskinan yang merupakan ketetapan pemerintah pusat memang perlu ditelaah ulang, cuma memang pemenuhan standar pelayanan sanitasi itu mau tidak mau tetap harus mengacu pada indikator kemiskinan yang ditetapkan itu,” jelasnya.
Wiyono membeberkan jika ditelaah mendalam perlu dievaluasi lagi item per indikator yang menjadi ketetapan kriteria seseorang itu dikatakan pra sejahtera atau tidak. “Maksudnya itu dilihat dari sisi mananya, apakah dari sisi kehidupan sosialnya ataukah dari sisi ekonomi, kalau kita lihat sih dari sisi ekonomi di tempat kita ini sudah cukup bagus semua, tapi kalau berbicara tentang lingkungan sanitasi itu tentu banyak yang tidak terpenuhi, karena itu kan sudah menjadi kebiasaan hidup mereka (BAB di jamban),” bebernya. (ADV)
Editor : Bambang Irawan