Berbeda dengan aplikasi perpustakaan digital nasional dan milik Pemerintah Provinsi Kaltim. Kedua aplikasi tersebut berasal dari platform yang sama, sehingga koleksi bukunya kurang lebih sama. Sedangkan i-Kukar, kata Fatoni, berbeda platform kedua perpustakaan digital itu sebagai pembeda dalam hal koleksi yang dimiliki.
"Jadi i-Kukar ini memberikan warna yang berbeda bagi para pembacanya," kata Toni, sapaan akrab pustakawan itu, Rabu (20/10/2021).
Tak hanya buku-buku bacaan yang banyak, buku-buku mata pelajaran untuk murid SD dan SMP sudah lengkap.
Diketahui Diarpus Kukar bekerjasama dengan Kubuku Indonesia, vendor asal Jogja yang sampai saat ini terus melakukan pengembangan aplikasi i-Kukar. Fitur-fitur baru pun ditambah, seperti adanya kolom diskusi bagi pembaca untuk membahas buku yang sudah selesai dibaca.
"Semacam kolom diskusi gitu, jadi orang yang membaca buku yang sama bisa membahas buku itu di dalam kolom tersebut," jelasnya.
Selain itu, pihaknya berencana untuk menambah fitur resensi sebuah buku. Ini, kata Toni, menjadi salah satu inovasi Diarpus Kukar untuk pembaca dapat memberikan semacam sinopsis terhadap buku yang dibaca.
Seluruh upaya ini dimaksudkan untuk meningkatkan budaya baca di Kukar. Minimal, warga Kukar setidaknya membaca satu buku dalam satu bulan.
Tercatat sudah sebanyak 1.500 lebih pengguna i-Kukar ini. Toni menyebut, penggunanya tidak hanya mayoritas masyarakat Tenggarong saja mengingat aplikasi ini sudah disosialisasikan secara terus menerus oleh Diarpus Kukar.
"Bahkan kemarin saat ada acara Pusteling (Perpustakaan Keliling) kita sekaligus mensosialisasikan perpustakaan digital ini," demikian Toni.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : Bambang Irawan