Pada kunjungan Dinas Komunikasi dan Informatika bersama awak media ke Muara Badak pada Sabtu (10/10/2020) kemarin, rombongan menuju Usaha Benur Idaman, milik dua bersaudara yakni Mursalim dan Subhan.
Benur Idaman ini merupakan usaha penyediaan bibit benur udang windu dan nener ikan bandeng yang kini memulai menerapkan Silvofisheri atau tambak yang ramah lingkungan.
Mursalim bercerita, tambak ini awalnya cukup sukses ketika dikelola secara intensif, mengingat daya dukung lahan yang memenuhi.
Namun lambat laun terjadi kontaminasi yang terkandung dalam pakan, obat pembasmi hama yang tertumpuk. Tak ayal, gagal panen pun terjadi. Menyebabkan dua bersaudara itu frustasi akan keberlanjutan bisnis benurnya itu.
Hal ini juga lah yang menyebabkan warga menelantarkan lahan tambaknya lantaran tidak lagi produktif, bahkan dijual sangat murah.
Mursalim yang merupakan pengurus Asosiasi Rumput Laut Indonesia itu tak mau habis akal. Berbekal pengetahuan revitalisasi, rumput laut dibudidayakan di tambak tersebut dengan tujuan mengembalikan kesuburan lahan.
Memang, rumput laut yang dibudidayakan di tambak merupakan suatu produk bahari yang tidak bernilai ekonomis, namun manfaatnya ternyata dapat mengobati lahan yang sudah rusak.
Hal itu sudah dibuktikan Mursalim, lahan tambak yang dibudidayakan rumput laut di atasnya dapat mengembalikan kesuburan atau unsur hara, ditandai dengan tumbuhnya pohon-pohon mangrove di sekitarnya.
Untuk mengembalikan ekosistem tersebut, diperkirakan membutuhkan waktu hingga tiga tahun.
Manfaat lainnya, ketersediaan bibit dari alam pun melimpah ketika lokasi tambak tersebut telah direvitalisasi dengan cara itu.
"Setelah berjalan punya harapan sendiri, tanpa membeli bibit pun alam yang menyediakan," kata Mursalim kepada Korankaltim.com.
Dari sini, potensi ekonomi dapat "digenjot" tanpa harus merusak lingkungan. Dia menyebutkan, 20-30 persen luasan tambak itu juga harus mengakomodir mangrove. Padat tebar per luas tambak pun disesuaikan, arial penyangganya juga berimbang untuk mempertahankan ekosistem di lingkungan tambak tersebut.
"Sehingga ini bisa kita nikmati sepanjang tahun dari generasi ke generasi," ujarnya.
Setelah sukses dengan usaha benurnya, Mursalim dan Subhan bercita- cita untuk membangun sekolah alam tidak jauh dari kawasan tambaknya itu.
Mereka ingin agar masyarakat lokal, terutama yang lurus sekolah, dapat memanfaatkan teknologi dan pengetahuan revitalisasi lahan ini dengan belajar di sekolah tersebut. (Adv)
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : Bambang Irawan