Menurut Edi, harus ada investasi yang bergerak di bidang ini mengingat kekuatan modal petani masih belum mampu.
“Jadi harapan kita ada investasi yang bergerak di jagung hibrida ini, dan sedang kita dorong, potensi ini sedang kita promosikan, ada beberapa sudah peminat yang sedang melakukan kajian lapangan, studi,” kata Edi kepada Korankaltim.com.
Kekhawatiran akan pasar dan hama tidak lagi menghantui petani merugi. Sebelumnya, beber Edi, para petani tersebut takut hasil tanamnya tidak akan membuahkan hasil signifikan akibat hama, terutama monyet. Namun, para petani tersebut menerima sosialisasi untuk menanam jagung tersebut bersama-sama satu kampung di wilayah tersebut.
“Seperti di Desa Rapak Lambur kemarin waktu panen, disampaikan pak di sini tidak ada kode (monyet) lagi. Jadi kalau kita nanam serempak disini itukan, ya itu juga bagian dari rezeki monyet. Tapi saya sangat terimakasih pada para petani, pergerakan jagung hibrida ini sudah berada di beberapa kecamatan, buktinya jelas bisa mendorong ekonomi para petani,” ujarnya.
Melihat keberhasilan para petani di wilayah pesisir, Dinas Pertanian dan Peternakan Kukar diinstruksikan untuk mengembangkan jagung di wilayah hulu Mahakam dengan pola-pola penanaman tertentu.
“Mudah-mudahan pola di sana kan ada karakteristik masyarakatnya ladang padi gunung, kita harap nanti begitu padi gunung ditanam nanti diintegrasikan dengan jagung,” demikian Edi. adv
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : M.Huldi