“Kita akan melakukan penataan rakit sebagai tempat tinggal warga, dengan konsep maju mundur menyesuaikan pasang surut sungai," ujar Arianto, Camat Muara Wis, Jumat (5/7/2019).
Diketahui, permasalahan sanitasi di desa yang dihuni oleh sebanyak 743 jiwa atau 178 KK tersebut merupakan masalah utama sehingga ditetapkan sebagai desa tertinggal.
Arianto mengaku juga akan mengupayakan pembenahan sanitasi jika konsep kampung terapung warna-warni itu terealisasi.
“Jambannya tidak ada lagi di pinggir sungai, jadi dibikin di belakang rumah,” ujarnya.
Kendati Muara Enggelam sudah terkenal se-Indonesia berkat PLTS Komunal yang dikelola BUMDes, menurut Arianto, aktivitas perekonomian setempat masih belum berjalan.
Jadi, dengan digagasnya kampung warna-warni, Muara Enggelam ini nanti diharapkan menjadi objek wisata.
“Kalau dia menjadi objek pariwisata, bisa disiapkan kebutuhan jual beli lagi kan. jadi ada kegiatan, perputaran uang di desa, yang bisa merubah lagi status ekonominya,” pungkas Arianto. Adv
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : M.Huldi