“Tujuannya adalah untuk melatih Trainer of Trainer (ToT), jadi harapannya peserta yang menjalani pelatihan bisa mampu untuk menyampaikan selanjutnya kepada kader, kepada petugas yang lainnya, tentang bagaimana perubahan perilaku, teknis pemberian makanan yang baik dalam pemenuhan gizi anak maupun ibu mengandung,” jelas Kepala Dinkes Kukar, Martina Yulianti kepada Korankaltim.com.
Sejauh ini terdapat 188 kasus stunting secara agregat. Pelatihan ini berlangsung tiga hari. Terlibat juga Promkes dan Program Gizi Dinkes Kukar, Persagi, Forum TJSP dan PKK yang diharapkan bisa turun ke lapangan setelah mendapat pelatihan ini.
Selain itu, penanggulangan gizi buruk ini juga tidak terlepas dari Rumah Besar Pengentasan Kemiskinan yang digagas oleh Pemkab Kukar. Artinya, tak hanya di hilirnya namun juga hulunya yakni kemiskinan. Peran aktif dari masyarakat pun diharapkan mengingat soal gizi buruk ini tidak bisa ditangani sendiri oleh Dinkes dan instansi terkait.
“Artinya kami di Dinkes tidak bisa menyelesaikan permasalahan kesehatan, apapun itu, soal gizi buruk, sanitasi lingkungan, kematian ibu, kematian bayi itu, sendiri. Kami hanya bekerja pada lingkup kecil namun ujungnya ke masyarakat, pelatihan ini pun sebenarnya arahnya nanti teman-teman ini akan mampu mendidik masyarakat karena mereka menjadi ToT,” pungkasnya. *Adv*
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : M.Huldi