Wali Kota Bontang, Neni Moernaeni, menjelaskan bahwa kenaikan jumlah tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor administratif dan dinamika sosial di tingkat rumah tangga. Salah satu penyebab utama adalah bertambahnya anggota keluarga, khususnya bayi yang baru lahir dalam keluarga miskin.
Selain itu, faktor lain berasal dari anggota keluarga miskin yang menikah, sehingga membentuk rumah tangga baru dan masuk dalam pendataan kemiskinan. Neni juga mengakui masih ditemukan kesalahan atau pembaruan data (error data) dalam proses verifikasi yang turut memengaruhi angka kenaikan.
“Berdasarkan data Kementerian Sosial sebelumnya tercatat sebanyak 16.384 orang. Setelah diverifikasi, jumlahnya naik 669 orang. Ada beberapa faktor penyebabnya. Kami ingin semua warga yang berhak benar-benar tercatat dan tidak ada yang tertinggal,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).
Dari hasil pendataan tersebut, angka kemiskinan di Bontang tersebar di tiga kecamatan. Kecamatan Bontang Selatan menjadi wilayah dengan jumlah warga miskin terbanyak, yakni 8.566 jiwa atau 2.249 KK. Sementara posisi kedua ditempati Kecamatan Bontang Barat dengan 2.453 jiwa atau 728 KK. Adapun sisanya tersebar di Kecamatan Bontang Utara.
“Pembaruan data ini menjadi dasar penting dalam penyaluran bantuan sosial dan penyusunan kebijakan penanggulangan kemiskinan agar lebih tepat sasaran,” tutupnya.
Editor: Erwin